• ,
  • - +

Kabar Perwakilan

Soroti Kasus Keracunan MBG di Sumbar, Ombudsman Ingatkan 7 Tahapan SOP yang Wajib Dipatuhi
PERWAKILAN: SUMATERA BARAT • Selasa, 22/09/2026 •
 


TRIBUNPADANG.COM, PADANG - Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Sumatera Barat menyoroti kasus dugaan keracunan makanan yang baru-baru ini terjadi di MTsN 1 dan SMPN 1Pariaman, menyusul insiden serupa yang sebelumnya juga pernah terjadi di Kabupaten Agam.

Kepala Ombudsman Sumbar,Adel Wahidi, menilai kejadian berulang dengan pola yang hampir serupa ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan.

Tentunya kata dia, terkhusus yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan paparan alur keamanan pangan Program MBG, terdapat tahapan prosedur ketat yang wajib dipatuhi tanpa kompromi, meliputi:

1. Penentuan menu dan pembelian bahan baku (didukung SOP sanitasi fasilitas dan ruangan).

2. Bahan baku datang ke SPPG (mengikuti SOP persiapan bahan pangan).

3. Pembersihan bahan baku (penerapan SOP pengolahan serta cek bahan baku oleh dinas ketahanan pangan).

4. Tes keamanan bahan pangan dan proses memasak (pengujian "food safety" dan proses memasak sesuai SOP pengolahan).

5. Test food dan penyimpanan sampel (pengumuman di papan pengumuman setiap hari serta SOP penyimpanan makanan masak dan sampel makanan).

6. Pemorsian (mengikuti SOP persiapan bahan pangan dan SOP sanitasi peralatan).

7. Distribusi makanan hingga penanganan darurat (pengiriman makanan hingga SOP tindakan apabila terjadi keracunan makanan).

"Setelah pengolahan, harus ada uji makanan (test food). Dilakukan tes lagi apakah sudah aman, lalu sebagian sampel disimpan. Setelah itu baru masuk ke tahap pemorsian, distribusi, hingga pencucian alat," ujar Adel saat ditemui di kantornya, Senin (21/9/2026).

Ia menegaskan, seluruh prosedur tersebut sebenarnya sudah diatur dengan jelas dalam petunjuk teknis.

Oleh karena itu, Adel meminta seluruh jajaran pengawas di daerah baik dari Satuan Pengawas (Satgas) BGN di daerah seperti Padang Panjang, maupun KPPG beserta jaringannya, untuk turun tangan menguji kepatuhan terhadap prosedur tersebut.

"Kalau ada yang salah dan keliru seperti yang ditemukan sekarang, ayo perbaiki saja secara terbuka. Masyarakat itu biasanya bisa menerima, bahkan lebih percaya kalau misalnya ada yang salah, lalu diperbaiki," tutup Adel.

Jumlah Korban Keracunan MBG Pariaman Bertambah Jadi 129

KERACUNAN MBG - SPPG Pasir Pariaman Tengah, Kota Pariaman Selasa (15/9/2026). SPPG Pasir Pariaman Tengah dihentikan sementara beroperasi selama 30 hari ke depan. KERACUNAN MBG - SPPG Pasir Pariaman Tengah, Kota Pariaman Selasa (15/9/2026). SPPG Pasir Pariaman Tengah dihentikan sementara beroperasi selama 30 hari ke depan. (Tribun Padang/Muhammad Afdal Afrianto)

Sebelumnya diberitakan, jumlah pelajar yang mengalami dugaan keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di KotaPariaman, Sumatera Barat, bertambah menjadi 129 orang.

Kabid Kesehatan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan KotaPariaman, Susrikawati, mengatakan angka tersebut berdasarkan jumlah korban yang dibawa untuk mendapatkan penanganan di rumah sakit.

"Data terakhir 129 orang yang dibawa ke rumah sakit," kata Susrikawati kepada TribunPadang.com, Senin (21/9/2026).

Pasca kejadian tersebut, Dinas Kesehatan KotaPariaman melakukan pengawasan untuk memastikan kondisi para siswa dan mencegah munculnya kasus baru.

Menurut Susrikawati, pengawasan akan dilakukan selama 14 hari sejak kejadian dugaan keracunan MBG.

"Untuk tindak lanjutnya kita melakukan surveilans selama 14 hari setelah kejadian," ujarnya.

Surveilans dilakukan dengan memantau sekolah-sekolah yang menerima program MBG serta dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan makanan.

Sementara itu, dapur SPPG PasirPariaman Tengah yang berkaitan dengan kejadian tersebut mendapat sanksi  berupa penutupan selama 30 hari.

Selama masa penutupan, pengelola diminta melakukan sejumlah pembenahan, mulai dari administrasi, sumber daya manusia (SDM), hingga sarana dan prasarana.

"Dapur yang kasus itu kita berikan sanksi ringan, ditutup selama 30 hari. Selama itu mereka melakukan perbaikan administrasi, SDM, sarana dan prasarana," jelasnya.

Dinkes juga memastikan dua siswaMTsN 1 Pariaman yang sebelumnya dirujuk secara resmi ke RSUP M Djamil Padang kini telah dalam kondisi stabil.

Keduanya diperbolehkan pulang pada Senin (21/9/2026) dan dijemput oleh pihak yayasan SPPG PasirPariaman Tengah untuk dibawa kembali ke rumah masing-masing.

Sebelumnya, kedua siswa tersebut dirujuk ke RSUP M Djamil karena kondisinya terus menurun. 

Tekanan darah mereka sempat turun dan denyut nadi mulai melemah sehingga membutuhkan perawatan dengan fasilitas PICU.

DinkesPariaman kemudian memilih RSUP M Djamil setelah fasilitas PICU di RSUD M YaminPariaman penuh.

Susrikawati mengatakan biaya perawatan kedua siswa selama berada di RSUP M Djamil telah diselesaikan oleh pihak yayasan SPPG PasirPariaman Tengah.

Persoalan Hukum

Pemerintah KotaPariaman belum menentukan apakah akan menempuh jalur hukum terkait dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami 129 siswa pada Senin (14/9/2026).

Wali KotaPariaman Yota Balad mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebab pasti para siswa mengalami gejala keracunan.

Hal tersebut disampaikan Yota saat menghadiri kegiatan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus di RS M Djamil Padang, Jumat (18/9/2026).

Ketika ditanya mengenai kemungkinan langkah hukum atas kejadian tersebut, Yota Balad mengatakan PemkotPariaman akan terlebih dahulu melakukan koordinasi.

"Nanti kita koordinasikan langkah-langkah selanjutnya," kata Yota.

Menurutnya, hasil pemeriksaan laboratorium penting untuk menentukan penyebab kejadian tersebut.

"Kita masih menunggu hasil labor. Jadi hasil labor masih kami tunggu, biar tahu jenis bakterinya. Jadi bakterinya atau apanya bagaimana kita belum tahu," ujarnya.

Yota mengatakan dirinya telah meminta agar hasil pemeriksaan dapat segera diketahui.

"Kita tadi sudah mendesak Kepala BPOM agar hasilnya cepat keluar. Sehingga kita dapat tahu apa yang penyebab keracunan tadi kepada siswa kita," katanya.

Selain hasil laboratorium, Pemkot Pariaman juga masih menunggu hasil investigasi Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap SPPG yang menyalurkan makanan MBG kepada para siswa.

Tutup SPPG

Mantan Sekda KotaPariaman ini menyebut makanan MBG yang dikonsumsi para siswa berasal dari satu SPPG di daerah tersebut. 

Setelah kejadian tersebut, PemkotPariaman telah menginstruksikan agar SPPG tersebut ditutup.

"Sementara penyaluran ini berasal dari satu SPPG. Pasca keracunan kami sudah instruksikan SPPG itu untuk ditutup dan sekarang sudah ada turun investigasi dari BGN," jelasnya.

PemkotPariaman, kata Yota, akan melihat hasil investigasi tersebut sebelum menentukan tindak lanjut.

Di sisi lain, Dinas KesehatanPariaman juga diperintahkan melakukan mitigasi terhadap SPPG yang ada di KotaPariaman.

Pemeriksaan dilakukan untuk melihat kelayakan SPPG yang masih beroperasi.

"Kita sudah instruksikan kepada Dinas Kesehatan untuk mitigasi SPPG yang ada. Kemudian kita lihat kelayakannya," katanya.

Saat ini, terdapat sekitar tujuh SPPG yang aktif di KotaPariaman.

Yota menegaskan, apabila dalam pemeriksaan ditemukan SPPG yang tidak layak, PemkotPariaman akan mengambil tindakan sesuai kewenangannya.

"Insya Allah nanti ketika ada ditemukan tidak layak, SLS-nya tidak kita berikan," ujarnya.

Sementara itu, dua siswi yang mengalami kondisi memburuk setelah dugaan keracunan telah dirujuk ke RS M Djamil Padang.

Yota Balad mengatakan kondisi keduanya kini mulai membaik setelah sebelumnya sempat mendapat perawatan intensif.

"Kemarin memang dibawa ke ruangan ICU, tapi sekarang sudah ke ruangan rawat inap," katanya.

Saat pertama masuk rumah sakit, kedua siswi tersebut masih mengalami mual dan sakit perut.

Namun, kondisi keduanya kini disebut telah membaik. Pecinta olah raga tenis ini berharap mereka dapat segera pulang dalam satu atau dua hari apabila kondisi terus membaik.

"Alhamdulillah sudah membaik. Jadi mungkin satu hari atau dua hari ini sudah bisa pulang kembali. Kita berdoa semoga kesehatan beliau semakin baik," ujarnya.

Dari total 127 siswa yang diduga mengalami keracunan, mayoritas merupakan siswaMTsN 1 Pariaman.

Selain itu, terdapat dua siswa SMPN 1Pariaman dan satu siswa sekolah dasar.

Yota mengatakan sebagian besar korban lainnya kini dalam kondisi aman.

PemkotPariaman selanjutnya akan menunggu hasil laboratorium dan investigasi BGN sebelum menentukan langkah lebih lanjut terkait kasus tersebut. (*)





Loading...

Loading...
Loading...


Loading...
Loading...