• ,
  • - +

Kabar Perwakilan

SLBN 2 Bantul Terancam Kehilangan Status Sekolah Terbersih Nasional: Bau Menyengat, Kami Alami Sesak Nafas!
PERWAKILAN: D I YOGYAKARTA • Selasa, 21/04/2026 •
 
FOTO. Olivia Rianjani/Herald.id

HERALDJATENG, YOGYAKARTA - Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Bantul kini tengah berjuang melawan polusi udara yang kian mengkhawatirkan. Sekolah yang pernah menyabet predikat sebagai Sekolah Bersih Nasional Nomor 3 pada tahun 2018 ini, kini justru terkepung bau busuk menyengat dan asap pembakaran dari Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Sokowaten yang hanya berjarak puluhan meter dari ruang kelas.

Kondisi yang berlarut-larut tanpa solusi konkret dari Pemda memaksa pihak sekolah bersama warga setempat mengadu ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan DIY pada hari ini, Senin 20 April 2026 didampingi kuasa hukumnya. Mereka menduga adanya maladministrasi dalam pengelolaan sampah yang berdampak buruk pada kesehatan siswa berkebutuhan khusus dan lingkungan pendidikan.

Wakil Kepala (Waka) Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) SLB N 2 Bantul, Sudarman, mengungkapkan bahwa sejak TPST Piyungan ditutup, aktivitas pembuangan sampah di seberang sekolah mereka meningkat drastis. Meski kini telah tersedia mesin pengolah, masalah justru beralih dari asap pembakaran menjadi bau busuk yang tidak tertahankan.

Ia menyebut, dampak lingkungan ini bahkan melumpuhkan fasilitas sekolah. Ruang praktik Tata Boga yang seharusnya digunakan siswa untuk belajar memasak kini tidak bisa difungsikan maksimal karena aroma sampah yang masuk ke dalam ruangan.

"Hari ini saja, tadi ketika kami mau berangkat, itu baunya tidak karuan. Dampaknya, ada satu anak yang kelasnya dekat sungai itu mengeluh sakit pernapasan. Ada juga teman (guru) yang asma, sekarang makin parah dipicu asap dan bau itu. Saya sendiri dua tahun terakhir sudah merasakan keluhan pernapasan, kebetulan ruangan saya paling dekat dengan tempat pembuangan sampah itu," ujar Sudarman kepada wartawan di Kantor ORI DIY.

Ia mengungkapkan dampak paling pada beberapa hari terakhir ini dan terlebih lagi saat hujan.

"Ini dampaknya tidak hanya siswa tapi guru, masyarakat. Dampaknya 3 orang sekolah dan 3 sekolah ini ada ratusan siswa. Gurunya keseluruhan itu 50-an," ungkapnya.

Pihak sekolah pun mengklaim telah melayangkan protes sejak tahun 2017 saat indikasi pencemaran mulai muncul. Namun, surat-surat laporan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul hingga Dinas Pendidikan Provinsi seolah diabaikan dan hanya mendapat jawaban formalitas tanpa tindakan nyata di lapangan.

"Di tahun 2023 Juli itu lagi bersurat ke Kepala DLH lagi. Nah, yang tahun 2024 kami ke atasan kami Ke kepala Dinas Pendidikan Provinsi, jawabannya sama 'Segera ditindaklanjuti' tapi nyatanya sekarang apa," ucapnya.

Sudarman juga mempertanyakan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pembangunan TPS3R tersebut. Ia merasa pihak sekolah tidak pernah dilibatkan dalam diskusi saat tempat tersebut didirikan, padahal jaraknya hanya sekitar 50 hingga 75 meter dari sekolah.

"Sekolah kami itu lebih duluan ada dibandingkan tempat pengelolaan sampah itu. Kami pertanyakan Amdal-nya seperti apa, kok kami tidak diajak berembug? Padahal radiusnya kurang dari 1 kilo, harusnya ada analisis dampak. Sisi selatan tembok kami sampai hitam dan bau, ditambah lagi lalat yang banyak sekali," tegasnya.

Lanjut Suharman, menuturkan pihaknya merasa ironis karena sekolah yang sering menjadi tujuan studi banding untuk kebersihan lingkungan ini, kini justru menyambut tamu dengan aroma sampah. Apalagi sekolah tersebut, kata dia, telah mendapat predikat sekolah bersih nasional ketiga pada tahun 2018 yang lalu.

"Misalnya ada sekolah lain studi banding, ingin lihat sekolah bersih seperti apa, eh ternyata baru masuk saja sudah bau sampah. Kami juga khawatir sebentar lagi ada akreditasi, takutnya nanti nilainya bisa turun jadi C karena kondisi lingkungan ini. Jadi, kenapa kami berupayakan sekolah kami tetap bersih dari pencemaran walaupun cuma pencemarnya bukan dari sekolahnya," tandas Sudarman.

Senada, Kepala SLB Negeri 2 Bantul, Hifna Suprihati, mengungkapkan kondisi ini sangat memilukan bagi para siswa berkebutuhan khusus yang memerlukan lingkungan tenang dan sehat untuk belajar. Selain kesehatan, pihak sekolah juga mengkhawatirkan status akreditasi dan reputasi sekolah.

"Kondisi ini sangat memilukan. Anak-anak kami sudah memiliki tantangan tersendiri dalam belajar. Ditambah bau busuk dan asap setiap hari, beberapa siswa mengalami gangguan kesehatan seperti sesak napas. Guru juga kesulitan mengondisikan kelas," ujar Hifna.

Penulis : Olivia Rianjani





Loading...

Loading...
Loading...


Loading...
Loading...