• ,
  • - +

Kabar Perwakilan

Sampah yang Tak Kunjung Usai: Ironi di Jerambah Gantung
PERWAKILAN: KEPULAUAN BANGKA BELITUNG • Selasa, 06/10/2026 •
 
Doc Pribadi Nabila Rahmadani

ADA satu hal yang seolah tidak pernah lepas dari kehidupan kita, yaitu sampah. Seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat, jumlah sampah pun terus meningkat.

Sampah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun, persoalannya bukan hanya pada jumlah sampah yang dihasilkan, melainkan bagaimana sampah tersebut dikelola dan ke mana masyarakat membuangnya.

Sayangnya, masih ditemukan perilaku membuang sampah sembarangan yang memperburuk persoalan lingkungan.

Salah satu persoalan yang dapat kita lihat adalah penumpukan sampah di kawasan Jembatan Jerambah Gantung, Kelurahan Jerambah Gantung, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Demografi

Di sepanjang kawasan tersebut, masih ditemukan sampah yang dibuang sembarangan, padahal area tersebut bukan tempat pembuangan sampah. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan: mengapa tempat yang seharusnya digunakan untuk menunjang mobilitas masyarakat justru berubah menjadi lokasi penumpukan sampah?

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, negara berkewajiban memenuhi kebutuhan setiap warga negara atas barang, jasa, dan pelayanan administratif.

Jalan dan jembatan sebagai bagian dari infrastruktur yang menunjang mobilitas masyarakat memiliki fungsi penting dalam pelayanan publik. Oleh karena itu, masyarakat sebagai pengguna jalan berhak memperoleh fasilitas yang layak, aman, dan nyaman. 

Persoalan kebersihan di kawasan jalan dan jembatan tidak semestinya dipandang sebagai persoalan lingkungan semata, karena kondisi tersebut juga berkaitan dengan kenyamanan masyarakat dalam memperoleh dan menggunakan fasilitas publik.

Berdasarkan data Ombudsman RI Perwakilan Bangka Belitung, pada tahun 2025 terdapat 21 laporan masyarakat yang masuk tahap pemeriksaan terkait pengelolaan sampah. Di sisi lain, berbagai pemberitaan juga menunjukkan adanya keluhan masyarakat mengenai sampah yang dibuang sembarangan di kawasan Jerambah Gantung, termasuk bau tidak sedap yang dirasakan pengguna jalan ketika melintas.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan persoalan sederhana. Jika dibiarkan, persoalan ini dapat terus berulang dan memberikan dampak terhadap masyarakat.

Lantas, mengapa persoalan tersebut masih terjadi? Salah satu penyebabnya adalah masih adanya masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Perilaku tersebut dapat dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, keterbatasan fasilitas atau akses pembuangan sampah yang memadai juga dapat menjadi faktor yang mendorong masyarakat mencari lokasi pembuangan alternatif.

Di sisi lain, pengawasan dan penanganan yang belum sepenuhnya mampu mencegah perilaku tersebut juga dapat membuat persoalan terus berulang. Dengan demikian, akar persoalannya tidak dapat hanya dibebankan kepada satu pihak. Persoalan ini berkaitan dengan belum optimalnya pengelolaan sampah sekaligus belum kuatnya perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

Dampaknya pun tidak dapat dianggap sepele. Penumpukan sampah dan bau yang ditimbulkan dapat mengganggu kenyamanan pengguna jalan yang melintas. Selain mengganggu pemandangan, kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan persoalan kesehatan dan mengurangi kualitas lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut. 

Pada akhirnya, keberadaan sampah di fasilitas publik bukan hanya membuat lingkungan terlihat kumuh, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas masyarakat dalam menikmati fasilitas yang seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman.

Menurut hemat penulis, persoalan sampah di Jerambah Gantung tidak tepat jika hanya dilihat dari satu sisi. Menyalahkan masyarakat karena membuang sampah sembarangan memang mudah dilakukan.

Namun, persoalan tersebut juga perlu dilihat dari sisi ketersediaan fasilitas, pengelolaan sampah, pengawasan, serta respons pemerintah dalam menangani titik-titik penumpukan sampah. Sebaliknya, pemerintah juga tidak dapat bekerja sendiri apabila perilaku masyarakat dalam membuang sampah sembarangan masih terus terjadi.

Karena itu, menyelesaikan persoalan sampah membutuhkan keterlibatan kedua belah pihak. Masyarakat perlu menjalankan tanggung jawabnya dalam menjaga lingkungan, sementara pemerintah perlu memastikan pengelolaan dan pelayanan persampahan berjalan secara optimal.

Upaya seperti pemasangan CCTV dan spanduk larangan membuang sampah telah dilakukan sebagai bentuk pencegahan. Namun, apabila setelah adanya upaya tersebut masyarakat masih mencari lokasi lain yang tidak terpantau untuk membuang sampah, berarti pendekatan tersebut belum cukup untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.

Solusi tidak seharusnya berhenti pada pemasangan CCTV atau imbauan semata. Pemerintah perlu memperkuat pengawasan, memastikan ketersediaan fasilitas dan sistem pengelolaan sampah yang memadai, serta melakukan edukasi secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu membangun kebiasaan untuk membuang dan mengelola sampah secara bertanggung jawab.

Pada akhirnya, Jerambah Gantung adalah fasilitas yang digunakan bersama. Kebersihannya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab setiap orang yang menggunakannya. Pemerintah perlu menghadirkan pelayanan publik yang layak, sementara masyarakat perlu menjaga fasilitas tersebut agar tetap memberikan manfaat.

Jangan sampai jembatan yang dibangun untuk menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya justru meninggalkan persoalan yang terus berulang. Persoalan sampah di Jerambah Gantung seharusnya menjadi pengingat bahwa pelayanan publik yang baik tidak hanya tentang tersedianya jalan dan jembatan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat menggunakannya dengan aman, nyaman, dan bermartabat.**





Loading...

Loading...
Loading...


Loading...
Loading...