Pasca-idulfitri di Bangka Belitung: Mengurai Kenaikan Harga yang Berulang

IDULFITRI 2026 telah berlalu. Namun, dinamika yang menyertainya-terutama kenaikan harga bahan pokok-masih menyisakan catatan penting untuk dievaluasi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, lonjakan harga kembali terjadi menjelang hari raya, bahkan mencapai puncaknya pada hari-hari terakhir Ramadan. Fenomena ini bukan sekadar peristiwa musiman, tetapi pola berulang yang menunjukkan masih adanya celah dalam pengendalian harga di tingkat daerah.
Data Badan Pusat Statistik Kota Pangkalpinang pada Maret 2026 memperkuat gambaran tersebut. Secara year on year, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan tingkat inflasi mencapai 3,71 persen, dengan subkelompok makanan bahkan mencapai 4,31 persen. Angka ini menegaskan bahwa tekanan harga pangan menjelang Idulfitri bukan hanya dirasakan secara kasatmata di pasar, tetapi juga tercermin dalam indikator ekonomi resmi.
Menjelang Idulfitri, suasana pasar tradisional di Bangka Belitung selalu berubah. Lebih ramai, lebih padat, tetapi juga lebih "berat" bagi sebagian masyarakat. Harga-harga mulai merangkak naik, terutama untuk komoditas yang paling dibutuhkan saat hari raya. Cabai, daging, hingga minyak goreng semuanya terasa makin mahal. Di tengah kondisi itu, pembeli mulai menyesuaikan, mengurangi, bahkan memilih untuk membeli secukupnya.
Fenomena itu bukan hal baru. Hampir setiap tahun, cerita yang sama kembali terulang. Kenaikan harga bahan pokok menjelang Lebaran seolah menjadi siklus yang diterima begitu saja. Padahal, pertanyaan pentingnya sederhana: mengapa pola ini terus terjadi tanpa perbaikan yang berarti?
Hasil pengawasan Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberi gambaran yang cukup jelas. Dari sisi ketersediaan, bahan pokok relatif aman. Stok beras, daging ayam, dan komoditas lainnya dinilai mencukupi hingga Idulfitri. Artinya, tidak ada persoalan serius pada pasokan.
Namun, persoalan justru muncul pada harga. Di sejumlah pasar, harga beras premium sudah melampaui harga eceran tertinggi. Minyak goreng bersubsidi juga dijual di atas ketentuan. Sementara itu, harga daging sapi terus mengalami kenaikan seiring meningkatnya permintaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan barang tidak otomatis menjamin stabilitas harga.
Di beberapa titik, tekanan harga bahkan lebih terasa. Pasar Lipat Kajang di Manggar, misalnya, menjadi salah satu wilayah dengan kenaikan harga yang cukup tinggi. Sejumlah komoditas mengalami lonjakan yang signifikan, terutama cabai rawit merah. Ini menunjukkan bahwa persoalan harga tidak merata, tetapi terkonsentrasi di wilayah tertentu yang rentan dari sisi distribusi.
Dari hasil wawancara dengan pedagang dan masyarakat, terlihat pola yang cukup konsisten. Kenaikan harga tidak terjadi sejak awal Ramadan, melainkan justru mendekati hari H. Pada H-2 hingga H-1 Idulfitri, harga-harga cenderung mencapai puncaknya. Bahkan, dalam beberapa kasus, kenaikan masih berlanjut setelah hari raya.
Di sisi lain, pemerintah daerah telah melakukan operasi pasar selama bulan Ramadan berlangsung. Langkah ini tentu patut diapresiasi. Namun, jika dibandingkan dengan pola kenaikan harga di lapangan, terlihat adanya ketidaksesuaian waktu. Intervensi dilakukan lebih awal, sementara lonjakan harga justru terjadi di akhir.
Di sinilah persoalan utama yang perlu diperhatikan. Bukan hanya soal ada atau tidaknya intervensi, tetapi soal ketepatan waktu. Jika pola kenaikan harga sudah berulang setiap tahun, maka kebijakan seharusnya bisa disesuaikan dengan pola tersebut.
Selain itu, persoalan data juga menjadi catatan penting. Perbedaan antara data harga yang dilaporkan dengan kondisi riil di lapangan berpotensi membuat kebijakan menjadi kurang tepat sasaran. Karena itu, penguatan data yang akurat dan sesuai kondisi lapangan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.
Ke depan, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian. Pertama, memperkuat pemantauan harga berbasis kondisi riil. Kedua, menyesuaikan waktu operasi pasar dengan periode paling rentan, terutama menjelang hari H dan setelah Idulfitri. Ketiga, memperbaiki distribusi agar tekanan harga tidak terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Kenaikan harga bahan pokok menjelang Idulfitri memang bukan hal baru. Namun, bukan berarti harus terus dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Justru karena terjadi berulang, maka sudah saatnya ditangani dengan pendekatan yang lebih tepat.
Pada akhirnya, masyarakat hanya menginginkan satu hal sederhana: harga yang terjangkau dan kebutuhan yang tersedia. Jika itu bisa diwujudkan, maka Idulfitri benar-benar menjadi momen kebahagiaan. (*)








