• ,
  • - +

Kabar Perwakilan

Ombudsman Minta Polda Bali Usut 14 Laporan Terkait Pinjol Ilegal dan Tangkap Pelaku
PERWAKILAN: BALI • Jum'at, 05/11/2021 •
 
Ilustrasi fintech. © business insider

Merdeka.com - Polda Bali mendapatkan 14 laporan terkait pinjaman online (pinjol) ilegal. Laporan itu masih diselidiki termasuk memburu para terlapor.

Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI), Ibnu Umar Alkhattab, laporan itu segera ditindaklanjuti dengan serius.

"Tentu saja Ombudsman RI Provinsi Bali berharap Polda Bali bisa menemukan terlapornya dalam waktu segera. Polda Bali bisa bekerjasama dengan Mabes Polri jika mengalami kesulitan di dalam menemukan pihak terlapor. Ombudsman yakin bahwa pihak kepolisian bisa menemukan para terlapor itu," kata Umar, saat dikonfirmasi Jumat (5/11).

Ombudsman Bali, klaimnya, belum mendapat laporan secara langsung terkait pinjol ilegal yang meresahkan masyarakat, meskipun cukup sering mendengarnya.

"Laporan secara langsung belum ada, tetapi informasi terkait itu sudah sering disampaikan ke Ombudsman," imbuhnya.

Ia juga meminta publik dan masyarakat Bali, agar berhati-hati ketika memanfaatkan pinjol ilegal sehingga terhindar dari penipuan dan akhirnya memiliki banyak utang.

"Ke depan, tentu saja Ombudsman meminta agar publik lebih hati-hati melakukan transaksi dengan pihak manapun di dalam mengakses pinjaman online. Publik harus memiliki pengetahuan yang cukup terkait pinjaman berbasis online ini, agar terhindar dari penipuan dan penumpukan utang," ujar Umar.

Seperti yang diberitakan, Polda Bali mendapatkan 14 laporan terkait pinjaman online (pinjol) ilegal di wilayah hukumnya. Petugas masih menyelidiki dan mencari para terlapor.

"Ada 14 laporan dan semuanya masih dalam lidik," kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Syamsi saat dikonfirmasi Selasa (19/10) lalu.

Ia juga menerangkan, pihak kepolisian masih kesulitan untuk mengungkapkan kasus pinjol ilegal itu. Alasannya, terlapor menggunakan alamat fiktif dan terbentur aturan kerahasiaan bank terkait pemilik rekening.

"Pelaku menggunakan alamat kantor fiktif (dan) terbentur dangan rahasia bank atau pemilik rekening bukan penggunanya langsung," imbuhnya.

Selain itu, aplikasi pinjol itu tak terdaftar. Nomor yang digunakan para pelaku juga sudah tidak aktif. [lia]





Loading...

Loading...
Loading...


Loading...
Loading...