• ,
  • - +

Kabar Perwakilan

Ombudsman Berharap Trans Batam ke Bandara Utamakan Rute Batuaji, Sagulung dan Sei Beduk
PERWAKILAN: KEPULAUAN RIAU • Rabu, 01/07/2026 •
 
Bus Trans Batam saat peluncuran rute baru menuju Bandara Internasional Hang Nadim, Senin (29/6). Foto: M. Sya’ban/Batam Pos

batampos - Peluncuran rute baru Bus Trans Batam yang melayani perjalanan menuju dan dari Bandara Internasional Hang Nadim mendapat sambutan positif dari Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau.

Namun, lembaga pengawas pelayanan publik tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan layanan transportasi massal tidak cukup hanya dengan membuka rute baru, melainkan juga bergantung pada kualitas pelayanan yang dirasakan masyarakat.

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kepulauan Riau, Lagat Siadari, menilai kehadiran layanan Trans Batam ke Bandara Hang Nadim merupakan langkah maju dalam pengembangan transportasi publik di Batam. Moda transportasi dengan tarif terjangkau, menurut dia, dapat menjadi alternatif baru bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi maupun transportasi daring.

"Ini tentu perkembangan yang positif. Dengan moda transportasi yang lebih murah, masyarakat memiliki pilihan baru untuk menuju bandara," kata Lagat, Rabu (1/7).

Meski demikian, Lagat menekankan bahwa ketersediaan dan kualitas infrastruktur pendukung harus menjadi perhatian utama. Salah satu aspek yang disorot adalah lokasi halte di kawasan Bandara Hang Nadim. Menurut dia, halte harus ditempatkan pada lokasi yang mudah dijangkau penumpang dan menyediakan fasilitas yang nyaman.

"Jangan sampai halte terlalu jauh dari titik kedatangan atau keberangkatan penumpang. Masyarakat pasti membutuhkan ruang yang nyaman ketika menunggu bus datang," ujarnya.

Selain lokasi halte, Ombudsman juga menyoroti durasi waktu tunggu antararmada. Lagat menilai, layanan transportasi publik hanya akan diminati apabila memiliki frekuensi keberangkatan yang cukup rapat.

"Kalau bus datang satu jam sekali, itu menjadi tidak efektif. Idealnya masyarakat menunggu sekitar 10 sampai 15 menit. Kalau lebih dari itu, minat menggunakan transportasi umum bisa menurun," kata dia.

Lagat juga mendorong agar pengembangan rute Trans Batam lebih memprioritaskan kawasan permukiman padat penduduk dan wilayah dengan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Menurut dia, kebutuhan transportasi murah justru lebih mendesak di kawasan pinggiran kota dibandingkan pusat perdagangan.

Ia menyebut sejumlah wilayah seperti Batu Aji, Sagulung, Tanjung Piayu, Bengkong, dan Sekupang sebagai kawasan yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan jaringan Trans Batam ke depan.

"Kalau dari kawasan seperti Nagoya, masyarakatnya relatif memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik. Yang lebih membutuhkan transportasi murah dan mudah justru masyarakat dari kawasan yang lebih jauh," ujarnya.

Di samping aspek rute dan frekuensi layanan, Ombudsman juga mengingatkan pentingnya kualitas armada yang dioperasikan. Menurut Lagat, kendaraan yang digunakan untuk melayani rute menuju bandara harus berada dalam kondisi prima karena turut memengaruhi citra Kota Batam sebagai daerah tujuan investasi dan pariwisata.

"Jangan sampai masyarakat atau tamu dari luar daerah datang ke Batam, lalu menggunakan bus yang kondisinya tidak layak atau bahkan mogok di tengah perjalanan. Ini menyangkut citra Batam juga," kata dia.

Ia menilai keberadaan armada yang nyaman, bersih, dan modern dapat memberikan kesan positif bagi wisatawan maupun investor yang baru pertama kali mengunjungi Batam.

Ombudsman juga menyoroti pentingnya penyediaan fasilitas ramah disabilitas dan kelompok rentan di setiap halte. Fasilitas seperti jalur landai (ramp), area tunggu prioritas, serta aksesibilitas yang memadai dinilai harus menjadi standar pelayanan transportasi publik modern.

"Jangan sampai halte tidak ramah terhadap penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Harus ada tempat duduk prioritas dan akses yang memudahkan mereka," ujar Lagat.

Ia bahkan mengusulkan agar halte-halte utama dilengkapi dengan fasilitas pertolongan pertama sederhana untuk mengantisipasi kondisi darurat bagi penumpang, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Menurut Lagat, seiring pertumbuhan Batam sebagai kota metropolitan dan meningkatnya aktivitas ekonomi, kebutuhan akan transportasi publik yang murah, mudah diakses, dan berkualitas akan semakin besar.

"Batam terus berkembang. Kehadiran transportasi publik yang murah, mudah, tetapi tetap nyaman dan berkualitas merupakan sebuah keniscayaan bagi kota metropolitan seperti Batam," kata dia.(*)





Loading...

Loading...
Loading...


Loading...
Loading...