Kelompok Petani, Nelayan dan Difabel Jadi Kelompok Rentan Pelayanan Publik

SLEMAN, diswayjogja.id - Tidak semua masyarakat memiliki akses dan pemahaman yang sama untuk memperjuangkan haknya dalam memperoleh pelayanan publik. Di DIY, nelayan, petani, dan penyandang disabilitas menjadi tiga kelompok rentan yang membutuhkan edukasi serta pendampingan hukum agar tidak menjadi korban maladministrasi.
Keterbatasan informasi dan pemahaman hukum membuat kelompok tersebut berpotensi mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan penyelenggara pelayanan publik.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan DIY, Muflihul Hadi, mengatakan, ketiga kelompok tersebut menjadi perhatian dalam upaya mendekatkan pengawasan pelayanan publik kepada masyarakat.
"Masyarakat yang paling rentan itu pertama nelayan, kedua petani, dan ketiga kelompok difabel. Konsentrasi kami bagaimana mendekatkan diri kepada masyarakat tersebut," ujarnya di Yogyakarta, Selasa (3/11/2026).
Sebagai langkah konkret, Ombudsman DIY telah melakukan sosialisasi kepada kelompok petani dan nelayan. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai hak memperoleh pelayanan publik yang baik serta mekanisme pengaduan jika menemukan dugaan maladministrasi.
Selain itu, Ombudsman juga memberikan perhatian terhadap akses bantuan hukum bagi masyarakat miskin. Salah satunya dengan mengundang sejumlah organisasi bantuan hukum (OBH) untuk membahas kendala yang dihadapi dalam memberikan pendampingan hukum kepada masyarakat.
Ombudsman membuka ruang pengaduan apabila masyarakat menemukan persoalan dalam proses bantuan hukum, baik terkait pencairan dana pemerintah maupun proses advokasi di lembaga penegak hukum.
"Kalau dalam konteks pelayanan bantuan hukum ada kendala, baik terkait pencairan dana maupun proses advokasinya di kepolisian, kejaksaan, atau pengadilan, masyarakat boleh lapor kepada kami," jelasnya.
Upaya mendekatkan pelayanan juga dilakukan melalui program rutin bersama Radio Republik Indonesia (RRI). Dua kali dalam sepekan, perwakilan Ombudsman hadir untuk mendengarkan langsung keluhan masyarakat.
Salah satu contoh pengaduan yang pernah ditindaklanjuti adalah tiang listrik yang miring. Setelah menerima laporan masyarakat, Ombudsman langsung berkoordinasi dengan PLN untuk meminta penanganan.
"Langsung saya datangi, langsung saya temui PLN hari itu juga. Saya minta solusi. Kemudian dijanjikan keesokan harinya tiang listrik itu akan ditegakkan," ungkapnya.
Ombudsman DIY juga menggerakkan Sahabat Ombudsman untuk memantau fasilitas publik, termasuk kondisi jalan berlubang yang berpotensi membahayakan pengguna jalan. Temuan tersebut didokumentasikan dan dikoordinasikan dengan dinas pekerjaan umum di Sleman, Kota Yogyakarta, maupun Bantul.
Edukasi pelayanan publik turut dilakukan melalui sosialisasi di pesantren dan sekolah. Program Ombudsman Goes to School menjadi salah satu upaya mengenalkan fungsi pengawasan pelayanan publik kepada kalangan pelajar.
Selain itu Ombudsman RI DIY sudah menandatangani MoU dengan berbagai kampus di DIY, diantaranya UII, UAD, Atmajaya, Unisa, Widya Mataram, UCY. MoU ini dalam rangka sinergi kami dengan dunia pendidikan. Bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya penerimaan mahasiswa magang secara rutin di kantor kami, kelas ombudsman mengajar di kampus, kegiatan sosialisasi bersama mahasiswa KKN di desa.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia, berbagai kegiatan tersebut tetap diupayakan berjalan.
"Walaupun dengan keterbatasan anggaran, bahkan tanpa anggaran sekalipun, kami tetap mencoba mendekatkan diri kepada masyarakat yang paling rentan terhadap potensi maladministrasi dalam pelayanan publik," tegasnya.
Selain kegiatan sosialisasi, Ombudsman DIY juga berencana menggelar forum Ombudsman Mendengar pada Kamis (5/11/2026) pukul 14.00 WIB. Forum tersebut akan mengundang wartawan dan organisasi masyarakat sipil (NGO) di Yogyakarta untuk menyampaikan kritik, saran, maupun evaluasi terhadap kinerja lembaga tersebut.
"Kami akan mengundang teman-teman wartawan dan NGO. Silakan sampaikan kritik, saran, apa pun kami terima dengan lapang dada," katanya.







