Soroti Investigasi Kasus Meninggalnya Dokter Magang, Ombudsman RI Desak Audit Beban Kerja di RSUD Kuala Tungkal

JAMBI - Ombudsman RI mengambil langkah tegas dalam merespons dan mengawal insiden meninggalnya dokter magang, dr. Myta Aprilia Azmi, di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Tragedi ini menjadi atensi khusus lembaga pengawas pelayanan publik tersebut lantaran adanya dugaan tindakan di luar prosedur berupa beban kerja berlebih (overwork) yang mendera korban.
Anggota Ombudsman RI, Nuzran Joher, dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Jambi menyoroti secara langsung kasus tersebut. Sebagai bentuk pengawalan proaktif, ia menyatakan telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait tahapan pemeriksaan yang kini tengah dijalankan oleh Tim Investigasi. Nuzran mendesak pihak manajemen RSUD untuk segera berbenah secara menyeluruh, terutama dalam tata kelola sumber daya manusia (SDM) dengan melakukan audit jam kerja bagi seluruh tenaga medis di rumah sakit tersebut.
"Kita minta RSUD menetapkan batas maksimal jam kerja, misalnya 60 jam per minggu, dan memastikan ada jeda istirahat setelah jaga malam," jelas Nuzran pada Rabu, 6 Mei 2026.
Sebagai langkah mitigasi ke depan, Nuzran mendorong urgensi digitalisasi dalam pengelolaan dan pengawasan jadwal jaga yang terintegrasi langsung dengan sistem Kemenkes. Dengan skema pengawasan digital tersebut, diharapkan akan memicu sistem peringatan otomatis apabila pihak rumah sakit terindikasi memaksa dokter untuk lembur tanpa kejelasan.
Lebih lanjut, Ombudsman juga mendesak adanya evaluasi ketat terhadap status "wahana" atau fasilitas pelayanan kesehatan tempat para dokter magang berpraktik. Nuzran meminta agar status wahana bagi rumah sakit yang terbukti mengeksploitasi beban kerja atau gagal menyediakan dokter pendamping yang aktif untuk segera dicabut secara tegas.
"Harus ada juga jaminan asuransi kesehatan bagi seluruh tenaga kesehatan dan tenaga medis. Harus disesuaikan dengan beban dan risiko kerja," lanjut Nuzran.
Menutup arahannya, Nuzran juga menekankan pentingnya ketersediaan akses konseling psikologis yang terjamin kerahasiaannya di setiap rumah sakit. Layanan ini dinilai sangat krusial bagi para dokter internship guna mendeteksi dan menangani gejala stres akibat tingginya beban pelayanan sedini mungkin, sebelum berisiko menimbulkan dampak yang fatal. (ORI-Jambi)








