Ombudsman RI Kunjungi Gudang Bulog Kalimantan Selatan, Bahas Optimalisasi Stok Beras

Banjarmasin-Penyebab kenaikan harga beras diperkirakan karena adanya kegagalan panen beras lokal yang terjadi di wilayah Kalimantan Selatan, sementara di Kalimantan selatan beras lokal masuk dalam kategori beras khusus yang hanya bisa ditanam di Kalimantan selatan dan disukai oleh masyarakat karena tekstur berasnya yang pera. Hal ini disampaikan oleh Pemimpin Wilayah BULOG Kanwil Kalsel M. Imron Rosidi saat memberikan sambutan pada kegiatan silaturahmi bersama dengan Pimpinan Ombudsman RI Yeka Hendra Fatika di Gudang Bulog Wilayah Kalimantan selatan pada Rabu (2/11/2022).
Disampaikan Imron bahwa hingga saat ini, kebutuhan beras untuk wilayah Kalimantan selatan diperkirakan sekitar 10 ribu ton per tahun. Adanya kegagalan panen di beberapa wilayah membuat stok beras di gudang bulog dapat berputar cukup cepat. Dari stok 10 ribu ton, hingga bulan Oktober sudah keluar sekitar 6 ribu ton Diharapkan sampai dengan akhir tahun ini, Bulog Wilayah Kalsel dapat mengeluarkan stok beras lama, sehingga setidaknya hanya menyisakan stok beras tahun 2021.
Sementara itu, Bulog Wilayah Kalimantan Selatan memiliki kapasitas gudang penampung beras sekitar 38 ribu ton yang menyebar di beberapa titik wilayah. Namun hingga saat ini hanya 18 ribu ton gudang representatif yang dapat dimanfaatkan untuk menampung beras.
Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika dalam kesempatan ini juga mempertanyakan cara lain agar dapat mengoptimalkan fungsi gudang yang tidak dipergunakan, target penyerapan pengadaan dan jumlah mitra yang bekerjasama dengan Bulog. Disampaikan Imron bahwa untuk beberapa gudang yang tidak dipakai, ditawarkan untuk disewakan atau dikerjasamakan dengan pihak ketiga. Sedangkan untuk gudang yang ada di wilayah telaga biru, dikarenakan kapasitasnya yang cukup besar dan berada di wilayah pelabuhan pelindo, hingga saat ini masih belum bisa dimanfaatkan.
Untuk target penyerapan, Bulog Wilayah Kalimantan Selatan diberikan target sebesar 10 ribu ton/tahun. Dan sudah tercapai 1.000 ton untuk pengadaan komersil dengan variasi beras lokal dan beras yang di datangkan dari luar. Sedangkan untuk jumlah mitra, sampai dengan sekarang ada 17 mitra Bulog yang tersebar di Kalimantan Selatan.
Dalam kesempatan ini, Yeka juga mengatakan bahwa salah satu persoalan yang menyebabkan Bulog tidak bisa melakukan pengadaan untuk keperluan Public Service Obligation (PSO) adalah karena mitra sudah menyatakan membeli beras di atas harga HPP, sehingga harga jual beras ke masyarakat juga naik. Atas dasar hal ini, Yeka menyarankan agar Bulog melakukan konsep 3T (membawa Truk, Timbangan dan Tunai) kepada petani agar Bulog dapat mengetahui dari mana kenaikan harga beras mulai terjadi.
Yeka juga menanyakan kesiapan Bulog dalam menghadapi perpindahan Ibu Kota Negara ke wilayah Kalimantan. Imron menyatakan, Sebagai pintu gerbang Ibu Kota Negara Bulog Wilayah Kalimantan Selatan akan mensupport Kalimantan Timur. Setidaknya wilayah Kalimantan Selatan dapat menjadi daerah produksi beras tanpa mendatangkan dari luar








