• - +
Ombudsman Soroti Turunnya Kualitas Beras Bulog
Kliping Berita • Rabu, 20/05/2020 • gosanna_oktavia
 
Pekerja memikul karung beras di Gudang Bulog Sub Divisi Regional Serang di Serang, Banten. Foto: ANTARA

SHARE

Indonesiainside.id, Jakarta - Ombudsman menyoroti rendahnya kualitas beras Bulog akibat lamanya stok menumpuk di gudang. Pasalnya sudah banyak laporan dari masyarakat soal penurunan kualitas beras yang dimilki oleh Perum Bulog.

Wakil Ketua Ombudsman RI, Lely Pelitasari Soebekty mengatakan, stok beras Bulog yang besar ini sudah menjadi tren selama tiga tahun ini. Apabila dilihat secara jumlah relatif cukup karena biasanya di akhir tahun rata-rata stok beras di Bulog sebesar 2 juta ton itu dianggap aman.

"Akan tetapi utilisasinya kurang, artinya manajemen rantai pasok sebelum ada Bantuan Pangan Non Tunai (PBNT) turn over cukup tinggi karena masuk dan keluarnya lancar. Pengadaaan dan keluar dalam bentuk raskin," ujar dia dalam sebuah diskusi daring, Selasa (19/5).

Lely mengungkapkan, sekarang stok tinggi, namun dari tren pengeluarannya dengan KPSH atau operasi pasar untuk bencana menurun, maka stok ini menjadi menumpuk di gudang . Itulah yang berpotensi turun mutu dan rusak. Ini berpotensi merugikan korporasi bagi Bulog dan menurunkan kualitas layanan bagi masyrakat.

"Bukan hanya konteks kualitas berasnya, akan tetapi ketika masyarakat komplain biasanya Bulog akan menggantinya, tetntunya ini membutuhkan waktu dan membuat masyarakat kecewa. Ini ada beberapa laporan masuk ke Ombudsman di beberapa perwakilan di daerah," kata dia.

Kemudian stok beras di pemerintah daerah (pemda) ini yang belum tersentuh atau sedikit sentuhannya dimana pemda masih cenderung mengandalkan Bulog setempat. "Jadi inisiatif lokalnya masih kurang dan masih diatur dari pusat," tambahnya.

Selain itu, stok beras masyarakat yang masih menjadi pekerjaan rumah semua pihak dalam metodelogi pencatatannya. Pertama, sulit dan membutuhkan biaya yang lumayan mahal, terakhir dilakukan pencatatan pada saat Kementerian Perdagangan menugaskan Sucofindo untuk menghitung stok beras tahun 2012.

"Agak sulit karena pergerkan beras itu cepat pagi ini di pasar, siang sudah di rumah dan sore sudah di masak. Seharusnya setiap butir beras ada GPS supaya bisa mengetahui pergerakannya," tandasnya.

Sementara itu penggilingan padi merupakan komunitas terbesar dan satu-satunya indicator jumlah beras yang dihasilkan. Apabila ini bisa dikordinasikan dengan baik dan dipusatkan di Kementan ini bisa membantu memiliki akurasi data beras yang sesungguhnya.(PS)





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...