Kemlu-Kemenag Raih Predikat Kepatuhan Tinggi dari Ombudsman

Jakarta -
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dan
Kementerian Agama (Kemenag) mendapat Anugerah Predikat Kepatuhan Tinggi
dari Ombudsman RI. Kemenag dan Kemenlu mendapat nilai tertinggi dalam survei Ombudsman.
Acara
'Seminar Propartif dan Penganugerahan Predikat Kepatuhan Tahun 2019'
itu digelar di Hotel JS Luwansa, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta
Selatan, Rabu (27/11/2019). Penganugerahan itu diterima langsung oleh
Menag Fachrul Razi dan Menlu Retno LP Marsudi.
"Tahun ini adalah tahun terakhir sesuai dengan RPJMN 2024 2029, tinggal 4 kementerian, 4 lembaga sisa. Dari 4 itu ada dua yang mendapat nilai hijau dan kami akan berikan predikat yang bersifat tinggi," kata Adrianus Meliala di Hotel JS Luwansa.
"Kementerian agama dan kementerian luar negeri, yang tahun ini (mendapat penganugerahan) ya. Untuk yang paling tingginya kementerian luar negeri, kami akan berikan suatu award khusus untuk Bu Retno," sambungnya.
"Di situ ada 14 item. Item ini agak sederhana tapi di undang-undang bahwa ketika kita datang ke Kemenlu, dalam hal ini, mau ngurus visa, paspor, dan seterusnya, itu misalnya ada nggak ruang tamu, ada nggak toilet, ada nggak ruang laktasi, ada nggak ruang rambatan kalau kita difabel, ada nggak jembatan untuk naik ke atas kalau kita pakai kursi roda, remeh-remeh. Tapi kalau itu nggak dipenuhi mereka standar minimal kan, maka bagaimana mau naik ke tingkat yang lebih tinggi," paparnya.
Sementara itu, Menag Fachrul Razi mengatakan penganugerahan ini merupakan apresiasi kinerja kolektif pegawai Kemenag. Menteri agama sebelumnya juga berperan.
"Kami senang sekali mendapat penghargaan ini dan ini akan saya tunjukkan kepada semua anggota ini adalah prestasi mereka semua bukan prestasi orang per orang. Saya akan tunjukkan juga kepada menteri sebelum saya karena dialah yang mengkoordinir ini bukan saya. Saya hanya menerima hadiah di depan saja," kata Fachrul dalam sambutannya.
Fachrul menuturkan dalam pelayanan, kementeriannya memiliki misi
mendorong toleransi di masyarakat. Selain itu, moderasi beragama juga
jadi hal yang didorong.
"Kami punya misi setiap melayani publik
kami pasti memasukkan ide-ide kami. Satu, toleransi dan moderasi
beragama. Bukan moderasi agama. Kalau agama sudah moderat nggak perlu
dimoderasi. Yang perlu dimoderasi adalah kehidupan beragama yang kami
namakan moderasi beragama," sambungnya.
Menlu Retno juga
menyampaikan rasa terima kasih atas penghargaan tersebut. Penghargaan
ini, katanya, merupakan apresiasi dari kerja keras para pegawai Kemlu.
"Jadi
ini adalah kerja keras teman-teman di Kementerian Luar Negeri. Saya
baru saja mendarat dari Busan dini hari dan saya sudah berjanji untuk
mewakili teman-teman (kementerian) luar negeri untuk menerima anugerah
ini. Tentunya ini bukan hal yang mudah untuk dicapai dan lebih lagi
adalah tidak mudah dipertahankan," kata Retno.
"Pertama adalah mengubah mindset para pelaku, para pejabat. Karena tanpa mindset yang berubah maka tidak mungkin kita akan bekerja dengan baik. Yang kedua adalah penerapan standar. Karena dengan standar itu akan menciptakan certainty, akan mempermudah untuk dipantau pelayanannya dan yang ketiga, tentunya adalah inovasi sistem," sambungnya.
Momen penganugerahan ini juga bertepatan di hari ulang tahunnya hari ini. Selepas sambutan, pihak panitia langsung membawakan kue dan memberikan kejutan ulang tahun untuk Retno.








