• ,
  • - +

Artikel

15/25 Melayani Dengan Hati Ahli dan Aksi (Ibadah Sunyi, Meneguhkan hati)
• Rabu, 31/12/2025 •
 
Muhammad Firhansyah Kepala Keasistenan Pencegahan Maladministrasi Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan

15/25 Melayani Dengan Hati Ahli dan Aksi (Ibadah Sunyi, Meneguhkan hati)

 

"Siapa yang menguasai urusan manusia, maka tanggung jawabnya bukan di hadapan manusia... tetapi di hadapan Allah terlebih dahulu." nasihat Imam Al-Ghazali:

 

Benar pesan Sayyidina Ali bin Abi Thalib: "Nilai seseorang ditentukan oleh apa yang ia perjuangkan." Dan disinilah tulisan ini di mulai. izinkan saya dengan kerendahan hati mengawali dengan istighfar dan memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena sejatinya 15 tahun Ombudsman Kalsel bukan semata pengabdian tetapi adalah amanat yang akan dipertanggungjawabkan .

Tulisan ini bukan berbicara tentang saya. Tetapi insan Ombudsman RI dan Ombudsman Kalsel yang selama ini saya lihat, dengar, rasa dan alami, berinteraksi, bertumbuh, bersama mereka dan karena hal inilah. Akhir tahun 2025 ini Ombudsman Kalsel Kembali menerbitkan buku ini yang diberi judul "15/25"

Selama 15/25 saya melihat insan Ombudsman melangkah tanpa banyak suara, di balik meja pengaduan ditemani berkas map kuning, bergelut dengan keringat, sesekali keningnya berkerut karena begitu fokusnya dengan analisis, mereka seolah tenggelam dengan masalah orang lain dan sering mengabaikan masalah mereka sendiri, seketika itu ingatan saya berlari ke masa 2010 pertama bergabung disini, mereka pernah berkata, ini tak hanya profesi tapi sejatinya adalah panggilan hidup. Pilihan hati untuk melayani di jalan sunyi.

15/25 saya belajar arti sabar dalam bekerja. Mereka sanggup menyimpan kisah kisah pilu tentang pelapor yang menangis, karena hak-haknya dirampas, disisihkan karena dianggap masyarakat kecil, atau suara yang tak pernah didengar padahal luka, sakit dan menyakitkan. Mereka menjadi saksi bahwa negara tak selalu hadir, maka mereka memilih bahwa pengawasan adalah jalan untuk memastikan kehadiran itu benar-benar dirasakan rakyat. Maka tak salah bila ada yang menyebut mereka (insan Ombudsman) bukan hanya pengawas tapi aparat penegak keadilan, penjaga harapan dan doa publik.

15/25. Saat saya menemani mereka dalam berkoordinasi menemui para pihak, mereka selalu belajar mendengarkan, objektif saat mengklarifikasi, rendah hati dan menerima bila dikritik, mereka sering pulang paling akhir, merapikan semua catatan investigasinya. Pengabdiannya bukan tentang jabatan, melainkan tentang keberpihakan pada masyarakat, mereka tak terlihat seperti pejabat yang wara wiri di media atau sering disanjung publik. Namun mereka mengajarkan bahwa integritas tidak lahir dalam sekejap, melainkan ditempa dari ribuan keputusan kecil yang jujur, belajar dari niat yang ikhlas , tak selalu terlihat memang, tetapi cahayanya terpancar sampai ke hati masyarakat.

15/25 mengajarkan saya, bahwa jangan abaikan setetes air mata, air mata kecewa, air mata marah, air mata luka masyarakat yang datang, dari mereka makna memanusiakan manusia itu saya pahami, lewat mereka makna hadir itu akhirnya lahir, sebab mereka tetap membuka pintu mendengar di saat pintu-pintu lain tertutup. Menyambut dengan hati, menjadi pendengar yang tulus.

15/25. Dari mereka saya baru mengerti bahwa integritas bukanlah sesuatu yang harus diumumkan, Sebab ia tahu, Rasulullah SAW pernah mengingatkan: "Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka."(HR. Tirmidzi). Maka di sana saya belajar bahwa kita harus bisa memilih untuk tetap berdiri ketika banyak menyerah, tetap melayani meski dunia tak melihat, tetap menjaga keadilan meski tak mendapati pujian dan jabatan, karena sekali lagi integritas hanya dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas menjadi pengabdi.

15/25. Saya mulai melihat, sudah mulai begitu banyak jejak yang di tinggalkan: layanan yang membaik, standar pelayanan diperbaiki, pejabat lebih sadar akan tanggung jawabnya, dan masyarakat kini mengerti ke mana harus meminta mengadu urusan keadilan pelayanan publik. Meski demikian uniknya mereka insan ombudsman tak pernah sekalipun melihat angka-angka atau penghargaan yang mereka dapatkan. Namun, rasa damai karena telah menjadi penolong, mengabdi untuk rakyatnya. Karena ia paham sabda Nabi: "Allah menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya."

(HR. Muslim)

Semoga memasuki usia 25 Ombudsman Republik Indonesia dan 15 tahun Ombudsman RI Perwakilan Kalsel, lembaga ini terus konsisten memegang teguh kebenaran, terus menjadi telinga dan mata masyarakat, menjadi teladan dalam membangun pelayanan, serta sadar bahwa jalan ini masih panjang dan tak hanya kesabaran tetapi keyakinan bahwa setiap kebaikan akan kembali kepada siapa yang melakukannya, begitupun sebaliknya.

Sebagai penutup saya mencoba mengutip salah satu ayat dalam quran Surat Al Hijr surat ke 15 pada ayat yang ke 25 sebagaimana angka dalam tulisan  ini. wa inna rabbaka huwa yaḫsyuruhum, innahû ḫakîmun 'alîm ".

Sesungguhnya hanya Tuhanmulah yang akan mengumpulkan mereka. Sesungguhnya Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah SWT sebagai Zat yang akan mengumpulkan seluruh manusia untuk hisab (perhitungan) di Hari Kiamat. Maka sama dengan makna dalam buku ini yakni berhati-hati dan bersungguh-sungguh dalam menjaga amanah atau perbuatan sekecil apapun dengan niat apapun akan dipertanggungjawabkan bukan hanya kepada publik Tapi Tuhan pemilik semesta.

Semoga insan Ombudsman Republik Indonesia tetaplah menjaga prinsip kita melayani tanpa pamrih , mengawasi tanpa berpihak . Adil, profesional, berintegritas.

Akhirnya tulisan ini hanya sebuah catatan singkat tentang melayani, dalam ibadah sunyi, meneguhkan hati demi pelayanan publik terbaik bagi negeri yang dicintai.




Penulis: Muhammad Firhansyah, Kepala Keasistenan Pencegahan Maladministrasi Perwakilan Ombudsman Kalsel





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...