• ,
  • - +

Artikel

Sair Wa Suluk : Keindahan Melayani Hamba Tuhan
ARTIKEL • Senin, 12/10/2026 • Muhammad Firhansyah
 

Melayani masyarakat dengan penuh empati dan kasih sayang sesungguhnya adalah bentuk aktualisasi nama serta sifat pengasih dan penyayang Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pelayanan publik diniatkan sebagai ibadah kepada Sang Pencipta, tugas birokrasi bertransformasi dari sekadar rutinitas administratif menjadi pengabdian spiritual yang suci.

 

Selama ini, kita kerap memandang perjalanan spiritual atau pendakian ruhani sebagai sebuah proses yang eksklusif, sunyi, dan terputus dari hiruk-pikuk dunia.

 

Kita membayangkan bahwa pencarian kemuliaan di hadapan Tuhan hanya terjadi di atas sajadah, di rumah ibadah, di sudut-sudut sepi, atau di ruang-ruang perenungan. Namun, apabila kita merenungkan makna hakiki dari pengabdian dan kemanusiaan, jalan menuju Tuhan sesungguhnya terbentang sangat luas di ruang-ruang pelayanan publik.

 

Meminjam tajuk dari karya Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba'i Bahrul Ulum, yakni"As-Sair Wa As-Suluk: Perjalanan Menuju Alam Rohani", kita diajak untuk memaknai ulang hakikat dari sebuah laku spiritual (suluk).

 

Sair wa suluk tidak selalu mensyaratkan seseorang untuk meninggalkan urusan dan kewajiban duniawi. Sebaliknya, bagi seorang penyelenggara negara atau aparatur birokrasi, loket pelayanan dan meja kerjanya adalah arenasuluk yang paling nyata.

 

Melayani rakyat yang pada hakikatnya adalah hamba-hamba Tuhan merupakan bentuk perjalanan menuju alam rohani yang sangat luhur dan indah. Mengapa? karena pelayanan publik sebagai manifes ketaatan Ilahi.

 

Dalam kerangka hukum positif kita, penyelenggaraan pelayanan publik ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan hak sipil setiap warga negara. Namun, dalam kacamatasair wa suluk, memberikan pelayanan yang prima bukanlah sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban undang-undang, melainkan manifestasi dari ketaatan menjalankan amanat Tuhan.

Al-Qur'an secara eksplisit memerintahkan kita untuk menunaikan amanah dan berbuat keadilan di tengah-tengah manusia. Allah berfirman dalam Surah An-Nisa pada ayat 36, Tuhan merangkaikan perintah menyembah-Nya dengan perintah mutlak untuk berbuat baik kepada sesama manusia, mulai dari kerabat hingga orang-orang miskin dan ibnu sabil. Artinya, memberikan pelayanan yang memanusiakan hamba-hamba Tuhan adalah esensi dari ibadah itu sendiri.

 

Membersihkan Jiwa dari Penyakit Maladministrasi

Setiap laku spiritual (suluk) senantiasa menuntut pelakunya untuk membersihkan jiwa dari kotoran nafsu dan keangkuhan. Dalam konteks pelayanan birokrasi, kotoran jiwa itu mewujud dalam bentukmaladministrasi.

 

Ketika seorang pelaksana layanan berbuat diskriminatif, mengabaikan kewajiban, menunda-nunda penyelesaian layanan, atau memeras rakyat dengan meminta imbalan secara melawan hukum, ia sesungguhnya sedang mengotori jiwanya dan menjauh dari kemuliaan alam rohani.

 

Sebagai panduan perilakunya, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 telah meletakkan "adab" bagi pelaksana pelayanan publik, yakni kewajiban untuk bertindak adil, cermat, santun, ramah, keprofesionalan, dan tidak diskriminatif.

 

Dalam kacamata spiritual, menahan amarah saat menghadapi warga yang kesulitan, menolak godaan uang suap, dan konsisten melayani dengan senyum tulus adalah bentuk riyadhah (latihan rohani) yang sangat berat namun luar biasa agung.

 

Di sinilah letak keindahannya; setiap keikhlasan aparatur dalam menjauhi korupsi, kolusi, dan nepotisme demi mewujudkan kesejahteraan serta keadilan bagi rakyat, akan dikonversi menjadi cahaya yang menerangi jalan ruhaninya.

 

Simpul Pengabdian menjalaniSair Wa Suluk atau perjalanan menuju alam rohani menuntut kita untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi komunitas manusia. Bagi para abdi negara, puncak laku spiritual tertinggi justru dicapai ketika mereka mampu menundukkan ego dan melepaskan keangkuhan jabatan demi melayani rakyat kecil yang sering terpinggirkan.

 

Indahnya melayani hamba Tuhan terletak pada pemahaman bahwasetiap berkas yangdiselesaikan dengan jujur, setiap hak rakyat yang dilindungi secara adil, dan setiap kemudahan yang diberikan kepada kelompok rentan adalah anak tangga yang mengangkat derajat sang pelayan menuju hadirat Tuhan.

 

Ketika meja birokrasi disucikan dari segala bentuk keserakahan maladministrasi, maka seorang pelayan publik tidak sekadar sedang bekerja mencari nafkah, melainkan sedang menempuh perjalanan cinta yang sejati menuju Sang Maha Pencipta.

           

Di sisi itulah Ombudsman sebagai lembaga negara meyakini bahwa Pengawasan dan pelaporan terhadap maladministrasi adalah bagian dari misi moralAmar Ma'ruf Nahi Munkar. Mengawal kualitas pelayanan publik adalah kewajiban kolektif untuk menegakkan kebaikan dan mencegah kerusakan di ruang publik.

 

Untuk itu keindahan menjadi pelayan publik terletak pada kesempatan menebar kemaslahatan bagi jutaan jiwa setiap harinya. Karena jabatan publik adalah sarana mengabdi untuk kemanusiaan, tempat di mana sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

 

Saya tutup dengan kalimat hikmah. Bekerja dengan ikhlas dalam memberikan pelayanan umum laksana mengubah setiap jam kerja menjadi ganjaran pahala yang tak terputus. bahkanPelayan publik yang jujur tidak menuntut pujian manusia, sebab baginya kecukupan dan penerimaan dari Tuhan adalah sebaik-baik balasan.

 

Asisten Madya Ombudsman RI

 





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...