• ,
  • - +

Artikel

Pelayan Publik yang Otentik
ARTIKEL • Selasa, 08/09/2026 • Muhammad Firhansyah
 

"und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein" hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan. Penyair Friedrich Schiller

Sebuah negara tidak diukur kebesarannya semata-mata dari gedung-gedung pencakar langit atau kekuatan militernya, melainkan dari sejauh mana negara tersebut memanusiakan warganya.

Menjadi negara yang kuat berarti memiliki penyelenggara layanan publik yang berintegritas dan masyarakat yang hidup dalam martabat. Untuk mewujudkan hal ini, kita perlu meresapi kembali gagasan esensial dari salah satu Bapak Bangsa, Sutan Sjahrir,

Bagi Sutan Sjahrir, Politik dan Pelayanan Publik adalah sebagai jalan kemanusiaan bahkan kemerdekaan nasional bukanlah tujuan akhir dari sebuah perjuangan politik, melainkan sekadar "jalan bagi rakyat untuk merealisasikan diri dan bakat-bakatnya dalam kebebasan tanpa halangan". Politik dan birokrasi negara, dalam pandangannya, bukanlah arena untuk memperebutkan kekuasaan (machtsvorming), melainkan sebuah etika dan upaya eksistensial untuk mewujudkan nilai-nilai martabat dan kesejahteraan manusia.

Visi Sjahrir ini sangat relevan dengan hakikat pelayanan publik modern. Ia sangat cemas jika kemerdekaan justru memberi celah lahirnya "raja-raja versi baru" yang melestarikan feodalisme, di mana rakyat dibelenggu dalam kebodohan dan ketergantungan oleh para pemimpin politiknya.

Penyelenggara layanan publik hari ini tidak boleh lagi bermental penguasa yang feodal. Sebaliknya, mereka harus menjadi pelayan yang memegang teguh asas kepatutan, keadilan, dan tidak diskriminatif. Mudahnya kita menyebutnya pelayan publik yang otentik.

Keadilan sebagai fondasi negara yang kuat hanya bisa berdiri di atas fondasi keadilan yang kokoh. Sjahrir mendambakan individu-individu yang mandiri, otonom, dan memiliki "jiwa klasik" yakni jiwa yang leluasa, memandang dunia tanpa prasangka, dan tidak terbelenggu oleh kecurigaan-kecurigaan yang sempit. Ketika masyarakat diperlakukan secara adil oleh aparatur negaranya, martabat mereka sebagai manusia akan tumbuh, dan dari sanalah kekuatan kolektif sebuah bangsa bermula.

Sayangnya, praktik maladministrasi, korupsi, kolusi, dan nepotisme kerap merenggut keadilan tersebut dari tangan rakyat. Menunda-nunda layanan, meminta pungutan liar, atau bersikap diskriminatif adalah bentuk pengkhianatan terhadap negara dan Tuhan.

Padahal konsep amanah dalam melayani ini sejatinya adalah perintah langsung dari Tuhan. Al-Qur'an secara tegas mengingatkan para pemegang kekuasaan dan jabatan dalam Surah An-Nisa ayat 58: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil". Jabatan publik adalah amanat yang tidak boleh diselewengkan demi kepentingan pribadi atau golongan.

Selain itu Surah Al-Anfal ayat 27 memberi peringatan keras: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui".

Lebih jauh, dalam memberikan pelayanan dan merumuskan kebijakan, penyelenggara negara dituntut untuk objektif. Kebencian terhadap suatu kelompok tidak boleh menjadi alasan untuk bertindak zalim. Hal ini digariskan dengan sangat indah dalam Surah Al-Maidah ayat 8: "Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan".

Menjadi pelayan publik yang bermartabat di tengah sistem yang mungkin korup membutuhkan keberanian untuk mempertaruhkan kenyamanan. Ia menuntut pengorbanan, integritas, dan kesediaan untuk melawan arus keburukan demi membela mereka yang lemah.

Membangun negara yang kuat bukanlah proyek semalam. Ia adalah transformasi budi pekerti dan akal sehat, di mana setiap institusi, mulai dari kementerian hingga desa, meletakkan dasar moral bagi politik dan kebudayaan pelayanannya.

Ketika aparatur negara bekerja dengan ruh pengabdian, memelihara amanat, dan menjauhkan diri dari kesombongan, maka sejatinya kita sedang mengamalkan sebaik-baiknya tugas kemanusiaan. Seperti yang tercatat dalam Surah Al-Mu'minun ayat 8, "Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya" adalah mereka yang akan menuai kemenangan hakiki.

Kebangkitan Indonesia sebagai negara yang kuat akan menyingsing tatkala birokrasinya bersih, pelayan publiknya melayani dengan cinta dan keadilan, serta masyarakatnya saling menghargai dalam ikatan martabat yang sama di hadapan hukum dan Tuhan. Kita tunggu pelayan publik yang Otentik untuk republik.






Loading...

Loading...
Loading...
Loading...