• ,
  • - +

Artikel

Menjadi Asisten Ombudsman Republik Indonesia
• Kamis, 06/08/2020 • Muhammad Firhansyah
 
Kepala Keasistenan Bid PVL Ombudsman RI Kalsel Muhammad Firhansyah (doc Pribadi)

Pertama, saya ucapkan selamat kepada rekan sejawat Asisten Ombudsman Republik Indonesia yang diambil sumpahnya pada Kamis (06/08) lalu, baik sebagai Asisten Muda maupun Asisten Pratama.

Ada rasa bangga, haru, dan salut atas momen hari ini. Sebab di tengah pandemi, Asisten Ombudsman seluruh Indonesia diambil sumpahnya, meski tetap dengan protokol kesehatan ketat dan melalui jalur daring saja. Namun suasana berjalan khidmat dan sakral. Pengangkatan sebagai Asisten Ombudsman pastinya tak mudah, banyak onak-duri, bahkan terkadang menguras kesabaran dan energi. Tapi sekali lagi, inilah sensasi dan seni bagi manusia terpilih yang mengabdi untuk negeri.

Mengenal Ombudsman

Bagi saya, pertama kali berkenalan Ombudsman tepatnya waktu masih duduk di bangku kuliah S1 Fakultas Hukum ULM semester 5 (2004-2005). Pada jurusan Hukum Tata Negara dalam mata kuliah pilihan (matkul lembaga negara), salah satu yang dikaji adalah lembaga Ombudsman atau dulunya dikenal dengan nama KON (Komisi Ombudsman Nasional). Sempat terlintas dalam pikiran, betapa menarik bila bergabung dalam institusi ini sebagai pengawas atas pelayanan publik yang lumrahnya buruk untuk Indonesia.  

Di akhir 2010 saya mendapatkan informasi bahwa Ombudsman dibuka di empat provinsi yakni Papua, Jatim, Jabar dan Kalsel. Awalnya saya mengalami perdebatan batin apakah saya turut bergabung atau mensyukuri apa yang sudah saya raih saat itu, karena bagi saya pekerjaan tetap dan penghasilan yang ada sudah lebih dari cukup. Tapi, saya ingat nasihat guru-guru saya saat bergelut di dunia Pekerja Sosial  :

"Ada satu cinta di muka bumi ini, ia tak hanya hadir membahagiakan diri sendiri, tapi ia memberi kebahagiaan bagiku, kamu, kita, mereka, dan dunia. Cinta itu bernama cinta maslahat".

Kurang lebih maknanya, bahwa orang yang dirindukan para penghuni bumi dan langit yakni orang yang banyak memberi manfaat atau kebaikan bagi orang lain. Sesederhana itu yang saya pahami dan semua itu ada dalam tubuh lembaga yang disebut Ombudsman ini. Karena ia melayani. Dalam pengertian saya, melayani adalah rahmat Tuhan untuk semesta, berikut ciptaan-Nya di muka bumi. Dengan alasan itu pula saya memutuskan bergabung. Bukan karena profesi atau pekerjaan yang sebelumnya tak mulia, hanya saja, menemukan vitalitas kebaikan baru serta maslahat yang lebih luas ruang lingkupnya. Itu adalah sensasi tangga kehidupan yang harus saya jalani.

Setelah melalui sejumlah tes yang cukup panjang sambil belajar memperdalam warna kelembagaan. Akhirnya syukur alhamdullilah saya bisa menjadi salah satu bagian Ombudsman R.I Perwakilan Kalsel.


Sebuah Pengabdian di Tengah Keterbatasan

Menjadi Asisten Ombudsman tentunya merupakan kesadaran tinggi dan keikhlasan yang tak terputus. Apalagi di awal bekerja, begitu banyak lika-liku dan perjuangan yang harus dilewati.

Masih kuat dalam ingatan saya pada awal Ombudsman berdiri di Kalimantan Selatan. Banyak tantangan dan ujian yang kami hadapi. Fasilitas yang jauh dari kata layak, dioperasikan hanya oleh 4 orang untuk memikul beban se-Kalsel, suasana kantor yang penuh keterbatasan, bahkan dengan nilai penghasilan yang jauh dari tempat kerja sebelumnya. Hal tersebut sempat membuat saya merenung bagaimana prediksi masa depan lembaga yang masih muda ini. Ditambah waktu penggajian yang ketika itu tidak tentu (pernah dibayarkan setelah 3 bulan kerja). 

Namun sekali lagi, komitmen dan motivasi pengabdian akhirnya menjadi fokus pikiran. Tanggungjawab dan tugas, seperti menerima setiap konsultasi, laporan, keluhan publik, merespon dan menindaklanjutinya secara mandiri tetap dilakukan dan dijalankan secara profesional

Dulunya mekanisme pembagian tugas tidak tersistematis, atau lebih jelas seperti saat ini. Semuanya dikerjakan secara mandiri, mulai dari menerima, input data, analisa, administrasi, kajian dan telaah hingga naskah dan draft rekomendasipun yang sebenarnya tugas Asisten Madya atau Utama, semuanya dikerjakan oleh kami yang hanya Asisten Pratama.

Di tahun pertama dan kedua, fasilitas kantor lebih banyak memakai barang pribadi. Mulai dari laptop, printer, administrasi kantor hingga alat kebersihan pun semuanya merupakan hasil iuran dengan menyisihkan gaji yang ada. Belum lagi jam kerja saat itu tak hanya cukup dari Senin sampai Jumat. Kami para Asisten pun menjadikan Sabtu Minggu juga hari bekerja, sebab banyak laporan yang harus dikerjakan tanpa dikategorikan lembur  

Tiga tahun (2010-2013) sejak didirikan, ujian menyosialisasikan lembaga untuk lebih dikenal masyarakat di daerah menjadi hal utama. Sebab, tanpa dikenal kiprah Ombudsman di daerah,  kesadaran dan partisipasi publik mengawasi pelayanan publik pasti berjalan tidak efektif. Sehingga kami harus berjibaku "turun gunung", masuk-keluar instansi, kelompok masyarakat, hanya untuk mengenalkan lembaga pengawas pelayanan publik ini.

Belum lagi banyak instansi penyelenggara yang kadang bingung dengan aksi kami. Sebab selama melakukan monitoring, koordinasi maupun investigasi ke penyelenggara layanan publik, Asisten Ombudsman lebih banyak memakai transportasi sepeda motor sendiri atau angkutan umum. Sebab belum ada kendaraan dinas. Sehingga respon instansi ada yang terkejut, bahkan miris tak menyangka lembaga dengan kewenangan yang cukup besar dan mulia ini sangat terbatas dalam menjalankan tupoksinya.

Sekilas dari cerita itu seolah adalah pengorbanan yang banyak. Tapi tidak demikian dengan apa yang saya rasa dan teman teman Asisten rasakan. Bagi kami inilah perjuangan. Sebuah pengabdian di tengah keterbatasan. Memberikan totalitas dalam pekerjaan dengan niat agar ada perbaikan bagi pelayanan publik di masa mendatang.


Sumpah Yang Menggetarkan

Alasan lain dari atas nama sebuah pengabdian, bagi saya alasan untuk bekerja di Ombudsman yakni sumpah yang menggetarkan. Tahun 2010, saat bergabung di Ombudsman, ada satu agenda yang penting bagi saya. Agenda yang sakral, khusyuk, dan menjadi moment  yang mengharu biru, dan tentu berbeda dengan kondisi memulai kerja di Instansi sebelumnya, yaitu pengambilan Sumpah Jabatan.

Ombudsman kala itu membuat acara khusus pengambilan sumpah dengan mengundang para tokoh, pejabat, unsur Kementerian Agama, bahkan media untuk menyaksikan bersama. Saya dan rekan lainnya bersumpah di atas kitab suci Al-quran sebagai tanda mengawali pekerjaan  dengan baik dan amanah.

Dipimpin oleh salah satu Anggota Ombudsman RI yang sekarang menjadi anggota Majelis Kode Etik Ombudsman RI, Masdar Farid, proses pengambilan sumpah itu berjalan lancar. Namun, bagi saya sumpah ini sangat membekas, karena agama saya mengajarkan bahwa saat mengucap sumpah, hakikatnya adalah saya berjanji atas nama Tuhan. Ada ikatan janji yang paling suci dan sakral dengan Tuhan, yang tak boleh dilanggar sebab akan berdampak pada hidup dan kehidupan kini, masa depan dan  masa mendatang (akhirat).

Sumpah inilah yang membuat "beban" kerja menjadi nikmat dan rahmat, sebab ada alam bawah sadar, suara batin yang berbisik. Rem kuat untuk menangkis perbuatan dzalim yang mungkin akan terjadi, dan semoga saja tidak akan pernah terjadi. Sumpah inilah yang sesungguhnya  membuat saya bangga bekerja, menghalalkan apa yang saya ikhtiarkan, memberikan berkah atas apa yang diraih, dan dalam formalnya melegitimasi produk yang saya hasilkan, sehingga tidak bertentangan dengan administrasi dan aturan. 


Ombudsman Arena Belajar dan Berkarya

Ombudsman adalah rumah kedua bagi saya. Tempat dimana saya mencurahkan pikiran dan gagasan. Tempat menantang diri dengan beban di luar rata-rata, memupuk mental baja, membuat akal mampu memahami semua proses informasi atas potret kondisi praktek maladministrasi yang beraneka rupa.

Dari sini, ilmu komunikasi saya ditempa, meski pendidikan dan laboratorium media komunikasi itu sudah pernah saya tempuh. Namun tetap berbeda. Setiap hari selalu bertemu manusia berbeda dengan karakter yang unik. Mereka yang diam dibalik bayang-bayang, ratapan air mata, hingga emosi meledak-ledak sudah pernah saya hadapi. Dari yang rakyat jelata hingga pejabat ternama, juga pernah wara-wiri di kantor kami. Baik sebagai Terlapor maupun Pelapor, semua menjadi instrumen pembelajaran didaktik yang luar biasa.

Gelora moral pun menjadi bagian paling sensitif di Ombudsman. Bagi saya, menemukan suara-suara sumbang tentang perlakuan ketidakadilan ternyata lebih mengiris dari lagu-lagu perjuangan yang pernah saya dengar.

Di Ombudsman, rintihan para nelayan, petani, "orang kecil/miskin", orang orang "pinggiran", masyarakat pedalaman-perbatasan, ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), perempuan dan anak berhadapan hukum dan kaum disabilitas terasa sangat jelas dan tegas. Padahal saya merasa  suara-suara mereka dulunya masih sangat samar dan sumbang.

Dari Ombudsmanlah saya banyak belajar bahwa nilai-nilai kemanusiaan di ujung peradaban ini semakin tipis. Korupsi, kolusi, dan maladministrasi menjadi virus yang lebih berbahaya dari Covid-19.

Belajar melihat, merasa dan mendengar lebih detil dan seksama sekarang sudah menyatu di keseharian. Semua itu bukan berarti saya sudah menjadi yang paling ahli. saya rasa belum tetapi  itu adalah kata yang terurai menjadi laku, lalu jadi semangat, energi menggebu, menjadi vitalitas sampai pada kesenangan belajar dan menghasilkan karya.

Semua proses itu menjadi cambuk yang menyenangkan. Saya juga bersyukur atas berbagai pengalaman dan kesempatan mengikuti sejumlah pelatihan menjadi asupan motivasi dalam bekerja. Setidaknya, sejumlah diklat dan sertifikasi pernah saya ikuti seperti Diklat Media Relations, Audit Investigatif BPKP, Diklat Investigasi Maladministrasi, Diklat Penyelesaian Laporan, Intelkam, Sertifikasi Mediator, pelatihan dalam dan luar negeri menjadi pengalaman yang tak ternilai harganya. 

    

Catatan 10 Tahun Menjadi Asisten Ombudsman

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka. Kecuali bisikan dari orang orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah (Tuhan) maka kelak Allah memberi kepadanya pahala yang besar (Q.S Annisa: 114)

Satu dasawarsa atau sepuluh tahun bukan waktu yang singkat. Bagi saya sebagai bagian pioner di Ombudsman Kalsel, bahkan di Kalimantan, meniti perjalanan dari awal hingga melalui lebih dari seratus purnama, banyak hal yang tak bisa diutarakan.

Memang tak seindah yang dibayangkan, tak semenggugah puisi dan sastra. Petualangan menjadi pengawas pelayanan publik cukup berat, boleh jadi Dilan pun tak sanggup menanggungnya.

Bekerja dengan tuntutan integritas, moralitas dan kualitas etika adalah tantangan unik dan berbeda apalagi bagi Asisten yang sehari-harinya menangani laporan. Sangat terasa tuntutan untuk selalu meng-upgrade diri, ilmu, sikap dan pengetahuan menjadi satu kebutuhan atau keniscayaan.

Menjadi Asisten Ombudsman tak selalu pahit memang, tapi juga tak selalu manis. Semuanya ada ukuran, semua ada waktunya. Tidak selalu melulu hanya tugas kantor, uang, pujian ataupun kehormatan semu. Tetapi adalah belajar untuk menjadi sebenar-benar manusia yang menghargai dan menghormati manusia lainnya.

Bagi saya, menjadi Asisten Ombudsman adalah jawaban dari Tuhan atas doa-doa selama ini agar hidup bermanfaat, agar terus belajar melihat dunia dari sisi berbeda, agar mengasah indera ke arah fungsi ia dicipta, mendengar, melihat, merasa dan berkata yang benar, adil dan objektif. Sebab kegagalan memfungsikan indera sama saja kegagalan mengelola hidup.

Perjalanan panjang sepuluh tahun di Ombudsman bukanlah amanah yang ringan. Membangun tim kerja untuk kehidupan terkadang adalah proses yang rumit. Ada suka dan duka, episode dengan alur cerita berbeda. Namun cita untuk lapang dalam bekerja, berkhidmat untuk rakyat demi sebaik baik manfaat menjadi harapan dan doa.

Bukankah kami telah melapangkan untukmu dadamu dan kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu dan kami tinggikan sebutan namamu, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu sudah selesai (dari satu urusan). Kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lainnya dan kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS . Alam nasyrah : 1-8)

Teruntuk sahabat-sahabat yang baru dilantik, saya ucapkan selamat menjadi Asisten Ombudsman RI. Semoga selalu amanah, adil, imparsial, melayani sepenuh hati demi negeri yang kita cintai.





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...