• - +

Artikel

Magang Kilat Mahasiswi Guru Unida Gontor
ARTIKEL • Selasa, 14/01/2020 • Ian Dwi Heruyanto
 

SHARE

Yogyakarta, 10/01/2020 - Menjadi mahasiswi bidang guru adalah hal yang cukup mengasyikkan dan penuh tantangan. Bagaimana tidak, kegiatan yang dilakukan adalah mengajar di pagi hingga siang hari, dilanjut dengan perkuliahan di sore dan malam hari, membimbing santriwati di segala macam kegiatan akademik maupun non akademik, juga tanggung jawab pada sektor pondok guna stabilisasi di setiap bagian dan sistem pondok.

Yah, begitulah Universitas Darussalam Gontor mendidik kami. Jiwa-jiwa muda senantiasa diasah untuk terus bergerak dan berinovasi. Karena fii kulli harokah, barakah (setiap pergerakan ada berkahnya). Begitulah prinsip-prinsip yang ditanamkan kepada kami. Membagi waktu antara mengajar, membimbing, menstabilkan sektor pondok, serta kuliah memang merupakan suatu tantangan, karena semuanya adalah prioritas. Hal yang memudahkan kami dalam menjalankannya ialah keikhlasan dalam mengabdi yang tidak dapat diukur oleh materi.

Menyinggung tanggungjawab sebagai seorang mahasiswi, kami berkesempatan untuk bisa Magang atau PPL (Praktek Pengayaan Lapangan) demi mendapatkan pengalaman kerja yang dirasa sangat penting tentunya untuk menjadi kontribusi masa depan seorang mahasiswi. Magang menjadi jembatan seorang mahasiswi untuk bertransisi dari dunia perkuliahan menuju dunia kerja. Ya, karena tugas yang masih aktif menunggu di Pondok, waktu yang diberikan kepada kami untuk magang ini hanyalah 5 (lima) hari.

Untuk waktu yang sekilat itu, jelas kami harus bisa menyesuaikan diri untuk bisa menggali ilmu serta pengalaman sebanyak mungkin. Dalam kesempatan kali ini, kami berkesempatan untuk mengaplikasikan teori melalui praktik di Perwakilan Ombudsman RI Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai Lembaga Negara pengawas pelayanan publik, ketugasan Ombudsman menjadi sangat penting dalam menjembatani permasalahan masyarakat dengan Pemerintah.

Mengingat waktu magang yang sangat singkat bahkan bisa dibilang kilat, Ombudsman sangat memprioritaskan agar kami tidak sia-sia pada magang ini. Upaya yang telah dilakukan pun sangat objektif untuk kami semua, dari teori hingga praktik.

"Ombudsman adalah lembaga yang sangat objektif dan memiliki komitmen yang baik, bekerja secara cepat namun juga cermat, memiliki acuan yang kokoh dalam UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Selain itu, penjelasan mengenai tata cara penanganan kasus pun sangat jelas dan mudah dimengerti, sehingga kami betul-betul memahami dengan baik dan benar. Apalagi, ketika kami diajak untuk menemui Pelapor dan Terlapor. Bagi kami, di situlah titik pengalaman yang paling berkesan", kesan Sahira pada forum evaluasi kegiatan magang. 

"Saat berinteraksi dengan orang-orang tersebut, kami merasa bahwa emosi mudah sekali terbawa, dari mulai kesal sampai rasa sedih pun kami turut merasakan. Selain itu, ketika dalam proses investigasi maupun klarifikasi oleh Insan Ombudsman, kami cukup berkesan dalam pembawaannya. Hal ini dikarenakan mereka mampu menemukan celah-celah dalam menemukan suatu kejanggalan dalam laporan, yang pastinya hal tersebut membutuhkan kepiawaian dalam berbicara, menangkap informasi serta mengambil keputusan. Melihat itu semua, kami merasa bahwa kemampuan kami sangat kurang dan tentunya harus banyak belajar kembali, baik dari teori maupun pengalamannya", kata Risma saat ditanya soal kesan selama magang.   

Mari peduli terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Jika anda menemukan kejanggalan pada penyelenggaraan pelayanan publik, segeralah melapor kepada Ombudsman RI. Ingat, melapor itu baik! Ayo melapor untuk perbaikan kualitas pelayanan publik di Indonesia.

Penulis : Lamya, Risma, Sahira, Ula dan Ika dibawah bimbingan dan arahan Ian Dwi Heruyanto (Asisten Ombudsman RI) 





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...