logo12

Kasus Melahirkan di Parkiran, Ombudsman Temukan Ada yang Tidak Sesuai SOP

on . Posted in Perwakilan Bangka Belitung

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Muhammad Syahril. Nama itu diberikan kepadanya meski usianya hanya empat hari. Bayi yang dilahirkan Rahayu (18) warga Kampung Keramat, Pangkalpinang, pada Jumat (6/10/2017) itu meninggal dunia kemarin pagi di Rumah Sakit Bhakti Wara (RSBW) Pangkalpinang.

 

Muhammad Syahril lahir dalam kondisi prematur. Dia berada di dalam kandungan ibunya selama 32 minggu. Saat lahir, beratnya hanya 1,4 kilogram.

 

 

Pihak RSBW Pangkalpinang belum memberikan keterangan terkait kondisi terakhir Muhammad Syahril. Tim medis setempat hanya ingin memberikan keterangan sesuai persetujuan keluarga bayi.

 

Serupa dengan pihak keluarga. Seorang perempuan berhijab hanya berlalu menggendong almarhum saat keluar dari RSBW Pangkalpinang.

 

Dia langsung masuk ke mobil sedan biru yang sudah menunggunya.

 

Sejurus kemudian, kendaraan roda empat yang sebelumnya menjadi tempat melahirkan Muhammad Syahril itu berlalu dari RSBW Pangkalpinang.

 

Seperti diberitakan, Rahayu melahirkan di kabin sedan yang baru tiba di dekat pintu masuk UGD RSBW Pangkalpinang, Jumat (6/10) pagi.

 

Sebelumnya dia sempat diantar ke RS Bhakti Timah Pangkalpinang. Namun beralasan penuh, petugas kebidanan RSBT mengarahkan Rahayu ke RS Muhaya yang paling dekat dengan rumah sakit tersebut.

 

Ditanggung RSBT

 

Kemarin, beberapa perwakilan dari RSBT Pangkalpinang terlihat mendatangi ruang jenazah RSBW. Satu di antaranya Ketua SPSI RSBT Pangkalpinang, Abdul Hakim bersama seorang rekannya.

 

Abdul Hakim mengaku kedatangannya sebagai bentuk solidaritas rekan-rekan karyawan RSBT dalam memberikan perhatian kepada keluarga Rahayu.

 

"Kita juga sudah mendapatkan kebijakan dari RSBT bahwa seluruh biaya yang akan timbul dalam penanganan ini nantinya akan menjadi tanggung jawab manajemen RSBT," ujar Abdul Hakim.

 

Disinggung terkait kejadian Rahayu yang merupakan ibu dari bayi yang melahirkan di kabin mobil, dirinya hanya mengetahui saat kejadian kondisi pasien di rumah sakitnya dalam keadaan penuh.

 

"Fasilitas yang tersedia hanya 15 orang, sementara saat itu pasien ada 16 orang, yang 11 pasien sudah dalam kondisi aman, lalu lima orangnya harus mendapatkan penanganan serius. Sehingga diarahkan ke RS Muhaya," ujarnya.

 

Sementara itu Kepala Ombudsman Perwakilan Bangka Belitung, Jumli Jamaluddin mengatakan pihaknya sudah mengklarifikasi (RSBT).

 

"Kami ingin tau SOP (Standar Operasional Prosedur-Red) yang diterapkan pihak rumah sakit dalam melayani pasien, dan ini akan kami pelajari dulu. Yang jelas melihat dulu sepertia apa SOP yang mereka punya, tadi diakui oleh managemen memang ada yang tidak sesuai dengan SOP salah satunya gawat darurat menurut pengakuan, ini sedang dalam pemeriksaan BPRS," kata Jumli.

 

Kami belum bisa menyimpulkan, menurut pengakuan memang ada yang tidak sesuai SOP tapi mereka punya alasan ada miskominukasi dengan petugas karena sama-sama panik dengan keluarga. Juga dalam kondisi panik, petugas pelayanannya penuh.

 

"Kalau tidak sesuai dengan SOP jelas ini sudah merugikan masyarakat, pelayanan yang diberikan maksimal. Semuanya harus dilayani dengan baik dan sesuai SOP," katanya.

 

Jumli mengatakan bahwa keterangan dari pihak rumah sakit direktur akan berkomitmen memperbaiki itu, pelayanan di Rumah Sakit Bhakti Timah akan lebih optimal.

 

"Tapi kami tetap mengawal hal ini, namun tidak bisa gegabah masalah dari sisi pelayanan publik dari sisi administrasi terkait masalah hukum ada pihak lain, persoalan sanksi itu bukan wewenang kami. Karena kami fokus pada maladministrasinya.

 

Ini kan bagaimana pihak rumah sakit memperbaiki pelayanan rumah sakit, jangan sampai ini terulang kembali, karena kan ombudsman melihat pada tataran mal administrasi kalau nanti ditemukan makan sanksinya merujuk pada undang-undang.(*)

 

Sumber: http://bangka.tribunnews.com/2017/10/10/kasus-melahirkan-di-parkiran-ombudsman-temukan-ada-yang-tidak-sesuai-sop?page=2