• - +

Artikel

Catatan dari Amsterdam (2): Kemudahan Transportasi Publik
ARTIKEL • Senin, 14/05/2018 • Ahmad Fitri
 

SHARE

Hotel Amsterdam, demikian nama apartemen itu. Bangunannya berada di  jalan Teilingen 9, sebuah kawasan pemukiman di kawasan yang tergolong jauh dari pusat kota Amsterdam. Di sebelah kanan apartemen terdapat jalan raya dengan dua lajur. Di sebelah kirinya ada komplek pemukiman warga. Pemukiman itu terlihat asri dengan banyaknya pohon pelindung di setiap sisi jalan. Hanya saja karena saat itu baru memasuki musim semi, pohon-pohon yang tumbuh tinggi dan berdiri kokoh terlihat gersang tanpa sepucuk daun pun di rantingnya.

Setelah selesai melakukancheck in pada Sabtu (7/4) siang itu kami diminta Christiaan untuk berkumpul lagi untuk diberikan pengarahan terkait dengan fasilitas publik yang ada di Amsterdam. Di apartemen, saya sekamar dengan Haji Sofyan Lembah (Kaper Sulawesi Tengah), Sofyan Ali (Kaper Maluku Utara )dan Iwanggin Sabar Olif (Kepala Perwakilan Papua).

Menurut Christiaan, perjalanan dari apartemen ke lokasi pelatihan di kampus Vrije Universiteit berjarak sekitar 1 kilometer. Bisa ditempuh dengan jalan kaki ataupun menggunakan trem maupun kereta Metro. Untuk melihat dari dekat lokasi pelatihan, siang itu kami langsung diajak Chris meninjau kampus Vrije Universiteit dengan berjalan kaki. Siang itu sinar matahari sudah menyeruak langit Amsterdam, namun suhu dingin dan angin kencang seakan mengalahkan hangatnya sinar matahari siang itu. Chris membawa kami menuju kampus melalui taman kota yang berada tak jauh dari apartemen.

Baru saja memasuki area taman kota tersebut tiba-tiba saja sebuah sepeda yang dikendarai seorang perempuan berjilbab melintas di dekat jalan yang kami lalui. Saya langsung tertegun, ternyata video kesibukan lalu lintas sepeda di Amsterdam seperti yang diputar di kabin pesawat KLM malam tadi sudah mulai terlihat di Amsterdam. ''Kita tidak boleh melintasi jalan yang berwarna merah, karena jalan itu khusus untuk pengendara sepeda,'' ujar Chris menerangkan tata tertib berlalu lintas di Amsterdam.

Usai mengunjungi kampus, Chris selanjutnya mengajak kami melihat pusat kota Amsterdam. Dari kampus ke pusat kota tersedia beberapa moda transportasi publik, yang sering digunakan adalah kereta Metro dan trem. Masing-masing moda transportasi ini akan melewati beberapa stasiun maupun halte untuk mengangkut penumpang dari ataupun menuju pusat kota Amsterdam.


Pilih kereta Metro atau trem

Siang itu Chris mengajak kami ke pusat kota Amsterdam dengan menaiki angkutan kereta Metro dan menunggu di halte De Boelelaan/VU yang berada di persimpangan jalan sebelah kampus VU. Untuk bisa menggunakan jasa transportasi publik ini penumpang mesti memiliki kartu OV-Chipcard, kartu kecil seperti ATM yang sudah berisi saldo untuk pembayaran ongkos transportasi. Hal yang sama berlaku jika menggunakan moda transportasi trem. Selain itu, kartu ini juga berlaku bagi penumpang yang ingin bepergian ke luar kota Asmterdam dengan menggunakan kereta api Inter City.

Tak lama menunggu di halte, kereta Metro dengan kode nomor 51 akhirnya tiba. Penumpang kereta Metro harus melakukancheck in dancheck out dengan OV-Chipcard pada alat yang ada di luar kereta. Berbeda dengan ketika menggunakan trem, prosescheck in dancheck out dilakukan di dalam trem. Ini yang sering diingatkan Chris agar kami jangan sampai salah dalam melakukan check in maupun check out. Karena jika terjadi kesalahan, apalagi lupa melakukancheck in ataucheck out bisa dikenakan dengan hingga 50 euro.

Menumpangi kereta Metro mengingatkan penulis saat menaiki kereta Commuter Line rute Jakarta-Bogor pada dua tahun silam. Cara menggunakan jasa transportasi KRL Commuter Line di Jakarta hampir sama dengan di Amsterdam,, sama-sama menggunakan kartu Chipcard. Perbedaan yang paling menonjol adalah interior keretanya. Interior kereta Metro di Amsterdam menggunakan kursi yang masing-masing sisinya ada dua kursi. Interior kereta Metro seolah-olah dibuat untuk memanjakan konsumen supaya bisa menikmati perjalanan sambil duduk. Walaupun demikian, sepanjang perjalanan kami menaiki kereta Metro, masih banyak pengguna kereta yang tidak kebagian tempat duduk dan harus menikmati perjalanan sambil berdiri di gang kereta yang terasa sempit.

Interior KRL Commuter Line yang saya tumpangi dua tahun lalu menggunakan bangku di sisi kiri maupun kanan KRL,  sehingga penumpang yang duduk di bangku saling berhadap-hadapan. Interior Commuter Line dibuat demikian tentu saja supaya mampu menampung penumpang dalam jumlah yang banyak, mengingat padatnya jumlah penduduk di Jabodetabek. Selain menggunakan tempat duduk menyamping, Commuter Line juga menyediakan pegangan tangan gantung bagi penumpang yang tidak mendapatkan tempat duduk. Interior Commuter Line yang demikian sebenarnya lazim digunakan pada moda transportasi monorel di beberapa ibu kota negara Asia Tenggara seperti di Singapura dan Kuala Lumpur.  

Setelah hampir 20 menit perjalanan akhirnya kereta Metro tiba di stasiun Centraal. Stasiun ini merupakan stasiun terakhir rute Metro dari kampus Vrije Universiteit. Untuk mencapai stasiun Central kereta melewati sekitar sepuluh halte dan stasiun. Begitu keluar dari stasiun bawah tanah ini kami langsung memasuki kawasan pusat kota Amsterdam. Kawasan ini biasa disebut Centraal atau Centrum.

Kawasan Centrum yang memiliki banyak kanal seolah menjadi ikon kota Amsterdam. Maka tidak heran jika pusat kota ini dijejali oleh warga maupun pelancong yang berjalan kaki. Aktivitas warga yang menggunakan sepeda juga terlihat sangat mencolok di kawasan Centrum. Bahkan di sebuah sisi kanal terlihat sepeda yang diparkir harus disusun dua tingkat, tempat parkir itu seolah-olah seperti rak sepeda. Selain sepeda, keriuhan lalu lintas trem juga semakin membuat pusat kota Amsterdam semakin sibuk.

Rute moda transportasi trem di Amsterdam berbeda dengan rute kereta Metro. Jalur rel kereta Metro lebih banyak melewati jalan yang lurus dan di bawah tanah. Sedangkan rute trem banyak yang melewati berbagai sudut kota Asmterdam dan melawati banyak jembatan yang menghubungkan kanal-kanal Asmterdam. Selama di Amsterdam kami juga beberapa kali menggunakan fasilitas trem untuk menjangkau daerah-daerah tertentu yang tidak bisa dijangkau oleh kereta Metro.

Selain tersedianya moda transportasi Metro dan trem penumpang yang ingin bepergian ke luar kota Amsterdam seperti ke Den Haag dan Leiden biasanya akan menggunakan kereta Inter City. Pelayanan di kereta Inter City yang memiliki tempat duduk dua lantai ini terlihat lebih nyaman dibandingkan Metro dan trem. Yang membuat lebih nyaman adalah ketika penumpang bisa memanfaatkan fasilitas wifi gratis selama perjalanan ke tempat tujuan.

 





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...