• - +

Artikel

Catatan dari Amsterdam (1) Riuh Sepeda Belanda di Kabin KLM
ARTIKEL • Senin, 14/05/2018 • Ahmad Fitri
 

SHARE

   Waktu menunjukkan sekitar pukul 6 pagi waktu Belanda ketika pesawat KLM dengan nomor penerbangan KL 810 yang kami tumpangi mendarat di bandara Schipol Amsterdam Sabtu (7/4) lalu. Pesawat yang diberangkatkan dari Jakarta pada Jumat (6/4) sekitar pukul 19.30 itu terlebih dahulu transit selama satu jam di Kuala Lumpur International Airport sebelum melanjutkan penerbangan rute Jakarta-Amsterdam.

   Suasana di bandara Schipol Amsterdam pagi itu terlihat masih sepi, walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi namun pemandangan di luar pesawat terlihat masih agak gelap. Lampu-lampu di sekitar avron bandara terlihat masih terang menyala untuk turut menerangi temaramnya subuh menuju pagi di Amsterdam.

   Udara dingin mulai menyeruak di antara ventilasi bandara Schipol ketika kami keluar dari kabin pesawat menuju ruang kedatangan. Setelah urusan dengan petugas imigrasi dan mengambil bagasi rombongan bergegas menuju ruang kedatangan.

   "Selamat datang di Amsterdam,'' sambut seorang pemuda asal Indonesia bernama Christiaan. Pemuda yang akrab disapa Chris ini merupakan mahasiswa Indonesia di Vrije Universiteit yang ditugaskan untuk menyambut dan mendampingi rombongan tim Ombudsman selama mengikuti pelatihan di Amsterdam. Mengenakan jaket tebal dan topi pet khas Eropa, Chris kemudian membawa kami menuju bus yang akan mengantar rombongan dari bandara ke apartemen Htel Amsterdam, tempat kami menginap selama mengikuti pelatihan.

   Udara dingin disertai angin kencang langsung menyambut kami ketika baru saja keluar dari bandara. Di Indonesia, mungkin udara pagi itu hampir sama dengan kondisi udara saat berada di kawasan Puncak di Bogor. Bedanya, angin di Puncak Bogor tidak sekencang angin di Amsterdam. "Pagi ini sekitar 10 derajat celcius,'' papar Chris sambil tersenyum melihat kami yang kedinginan sambil meminta rombongan menaiki bus.

   Sekitar pukul 7.30 pagi itu bus mulai bergerak dari area parkir bandara menuju Htel Amsterdam di kawasan Teilingen, Amsterdam. Di dalam bus, saya masih menahan kantuk setelah tidak bisa tidur pulas selama terbang yang memakan waktu hampir 14 jam. Sambil melepas pandangan ke jalanan yang masih sepi, saya jadi teringat kembali pengalaman yang baru dirasakan, kami berada sepanjang malam di dalam pesawat Boeing 777-200 KLM yang melintasi banyak negara di Asia dan Eropa. Ya, melewati malam di langit Asia dan Eropa.

                                                            ***

   Kabin pesawat Boeing 777-200 milik KLM pada Jumat (6/4) malam itu terlihat penuh oleh penumpang yang baru saja boarding. Rombongan tim Ombudsman RI kebanyakan mendapatkanseat di bagian kanan tengah pesawat. Saya sendiri mendapatkan seat di nomor 33 J, tepat di sebelah gang bagian kanan pesawat, sebaris dengan Sofyan Ali (Kepala Perwakilan Ombudsman RI Maluku Utara) dan Firhansyah (Asisten Ombudsman RI Kalimantan Selatan).

   Seperti lazimnya pelayanan di kabin pesawat komersil di Tanah Air, menjelang take off penerbangan KLM diawali dengan peragaan keselamatan penerbangan yang diperagakan melalui layar TV monitor. Secara umum tak ada yang berbeda dari peragaan keselamatan penerbangan yang disampaikan KLM dengan peragaan yang disampaikan beberapa maskapai yang ada di Indonesia. Yang sedikit berbeda adalah tampilan video peragaan keselamatan penerbangan. Jika maskapai di Indonesia menampilkan video yang diperagakan langsung oleh sosok pramugari maskapai tersebut, sedangkan di KLM video peragaan ditampilkan dalam bentuk karikatur.

   Sepintas mungkin tampilan isi video ini biasanya saja karena menampilkan standar prosedur keselamatan penerbangan. Namun akan menjadi tak biasa ketika video yang ditampilkan terkesan lebih santai dan kreatif.

   Sebagian besar penumpang malam itu menghabiskan waktunya dengan menonton TV monitor yang berada di depan masing-masing tempat duduk. Saya perhatikan Sofyan Ali dan Firhansyah juga asyik menikmati tontonan mereka masing-masing. Setali tiga uang, saya juga melakukan hal yang sama, mencari film-film yang menarik untuk ditonton. Sesekali saya alihkan pilihan layar monitor untuk melihat peta rute penerbangan KLM dari Jakarta ke Amsterdam. Dari peta tersebut terlihat sudah di negara mana pesawat berada dan akan berapa lama lagi penerbangan akan ditempuh. Dari peta itu juga terlihat jika pesawat KLM akan menempuh rute melalui Asia Tenggara, Timur Tengah dan dilanjutkan memasuki kawasan benua Eropa.

   Menonton film dengan durasi waktu yang lama juga akan menjemukan. Di tengah kondisi mata yang mulai mengantuk saya coba cari pilihan program TV yang lain, ternyata ada satu film dokumenter menarik tentang aktivitas warga Belanda mengendarai sepeda. Rasa kantuk seolah menghilang ketika menyaksikan film dokumenter ini. Film ini mendokumentasikan aktivitas warga Belanda khususnya di Amsterdam yang disibukkan dengan aktivitas mereka mengendarai sepeda.

   Berbagai aktivitas warga yang mengendarai sepeda terekam dalam video ini. Ada perempuan muda yang mengayuh sepedanya dengan santai sambil bermain handphone. Terlihat juga seorang ibu yang mengayuh sepedanya sambil membawa bayinya yang diletakkan di keranjang bagian depan sepeda. Film dokumenter berdurasi sekitar 30 menit ini saya tonton hingga selesai dan hampir seluruhnya menayangkan aktivitas warga Belanda yang mengendarai sepeda. Seolah-olah jalanan di Belanda hanya dilalui oleh sepeda saja.

   Saya tentu saja penasaran dengan aktivitas warga masyarakat Belanda yang gemar mengendarai sepeda ini. Beberapa teman yang pernah studi dan bertugas di Belanda dan juga sejumlah media nasional pernah menceritakan aktivitas bersepeda ini. Dan saat itu, di tengah mata yang makin lelah dan mengantuk di kabin KLM, saya berharap bisa menyaksikan langsung aktivitas warga Belanda yang gemar bersepeda ketika nantinya sudah tiba di Amsterdam.





Loading...

Loading...
Loading...
Loading...